Dari Panggung Komedi ke Kebun Jahe: Kisah Nyata Narji Cagur Jadi Petani di Pamulang
Narji Tak Sekadar Bertani, Tapi Balas Rindu pada Masa Kecil
Komedian Narji Cagur baru-baru ini mengejutkan publik dengan keputusan besar dalam hidupnya: mundur dari layar kaca dan memilih bertani. Bukan bertani sekadar untuk hobi atau gaya hidup, tapi sebagai cara hidup yang mulai ia geluti secara serius—terutama di Pamulang dan beberapa daerah lain.
“Ibu saya dulu punya sawah di Pamulang. Di situ saya belajar nandur dan matun. Dasarnya di bengkel nenek,” terang Narji, penuh nostalgia. Dari situ benih kecintaan pada pertanian tumbuh, lalu mengakar kuat hingga kini. Keseriusannya terlihat dari luas lahan yang kini ia kelola di Pamulang, meliputi padi, jahe, dan tanaman dapur seperti serai, kunyit, pandan, dan salam.
Peran Keluarga Saat Vector Balik ke Sawah
Hubungan personal menjadi pendorong utama niatan Narji menjadi petani. Ia bercerita bahwa istrinya, Widyanti, adalah pihak pertama yang memberi dukungan nyata—ia rutin membeli tanah saat ada rezeki.
Saya ngakum, kerja keras Ibu itu, beli sana beli sini, sekarang lahan jadi sokoguru keluarga. Tanah-tempe belum makan sayur tapi air dari kebun, gemes,” ujarnya tertawa kecil saat diwawancarai.
Meski santer diberitakan memiliki lahan setara konglomerat, Narji dengan rendah hati membantah. Ia bilang, kalau punya 1.000 hektar, ya sudah jadi juragan besar. Tapi kalau masih didoain, ya Alhamdulillah. Itu pertama sekali, loh, pesen tanah orang main streaming YouTube,” timpalnya kembali canda.
Petani Minimalis Tapi Penuh Makna
Walau sederhana, lahan yang digunakan Narji sarat makna. Sawah itu bukan hanya sumber pemasukan, tapi juga rekreasi bagi jiwa urban yang sudah lelah dalam padatnya dunia hiburan. “Dari komedi ke pertanian: bukan karena lelah syuting, tapi rindu tulus ke hamparan hijaunya nenek.”
Saat ini, Narji memang mulai distans dari komedi; namun tak hengkang. Ia tetap menerima tawaran kerja, tapi aktif di kanal YouTube-nya membagikan testimoni pertanian dan kehidupan baru ini dengan pengikutnya.
Menurutnya, bertani bukan identitas turun-temurun saja, tapi bagian dari harapan Indonesia merdeka dari impor dan swasembada pangan. Ia mengkritik soal harga komoditas yang nggak stabil dan berharap ada regulasi yang melindungi sebagian kecil petani seperti dirinya.

Narji dan Lahan Hati di Pamulang
Dunia pertanian bukan panggung, tapi jauh lebih hidup dari panggung. Kisah Narji ini bukan sekadar komedian temui sawah, tapi tentang pulang ke akar, mengobati rindu anak kampung dengan kerja tangan, senyum setiap panen, dan pahit manisnya harapan baru.
Jika pertanian adalah doa yang ditanam di tanah, maka Narji adalah orang yang rela tak pilih butuh lama, yang chen rindang buat harapnya tumbuh subur.
