Entertainment

Denada Menjawab Cibir: “Saya Rapper Sejak SMP — Ini Bukan Gaya Baru!”

Pendahuluan

Dalam dunia hiburan, penampilan selebriti selalu menjadi magnet publik, tak terkecuali bagi Denada. Setelah penampilannya dipandang semakin berani dan seksi—pasca menjalani prosedur estetik—Denada akhirnya buka suara. Ia menegaskan bahwa gaya yang kini disorot bukanlah perubahan mendadak, melainkan bagian dari identitas artistiknya yang telah terbentuk sejak masa sekolah. Pernyataannya ini sekaligus menjadi jawaban tegas atas kritik yang mengacungi jari ke arah gayanya. Artikel ini membahas pernyataan Denada, perjalanan kariernya, respons publik, dan makna yang bisa dipetik dari kisah seorang artis yang terus memegang kendali atas citranya.


Jejak Karier Denada: Dari Rapper SMP hingga Panggung Hiburan

Denada memulai langkahnya di industri hiburan sejak remaja. Ia mengaku sudah aktif menjadi rapper pada periode 1990-an, tepatnya saat masih duduk di bangku SMP. Dalam wawancaranya, ia mengungkap:

“Dulu awal karier saya adalah menjadi seorang rapper. Di tahun 90-an itu, saya sudah terbiasa pakai crop top yang perutnya kelihatan… tapi itulah gaya hip hop saat itu.”

Sebagai putri dari penyanyi lawas Emilia Contessa, Denada tumbuh dalam lingkungan musik dan publik. Ia kemudian merambah ke dunia tarik suara, televisi dan kemudian perangkat estetika yang makin terlihat. Kini, ketika gaya penampilannya jadi sorotan—ia memilih menyampaikan bahwa ini bukan “gaya baru”, melainkan refleksi dari dirinya sejak dulu.


Pernyataan Terkini: Keras dan Penuh Makna

Menanggapi komentar bahwa penampilannya kini “terlalu seksi”, Denada memilih untuk tidak marah, namun berdialog:

“Kita tidak akan pernah bisa membahagiakan semua orang. Tapi pada akhirnya, kita selalu bisa membahagiakan diri kita sendiri.”

Ia juga menegaskan bahwa gaya seksi yang tampil saat ini bukan hanya tentang busana atau operasional estetika semata:

“Saya memulai karier dari umur 15 tahun… saya rapper sejak SMP. Ini bukan gaya baru.”

Pernyataan itu menyiratkan beberapa hal:

  • Ia ingin publik memahami bahwa identitasnya sebagai artis sudah berkembang lama, bukan sekadar “trend” yang diikuti belakangan.
  • Ia mengajak publik untuk melihat konteks yang lebih luas: bukan hanya soal busana, tetapi soal perjalanan dan pilihan hidup.
  • Ia menegaskan peran sebagai ibu tunggal (single mom) bagi anak semata-wayangnya, Aisha Ghassani, dan bagaimana ia memilih untuk menjaga kebahagiaan serta kenyamanannya sendiri di tengah sorotan publik.

Kritik Publik & Tantangan yang Dihadapi

Tidak semua komentar menghangatkan. Beberapa bagian publik menilai gaya Denada kini terlalu terbuka atau seksi, terutama ketika dibandingkan dengan citra sebelumnya. Kritik-seperti-itu kerap muncul di media sosial dan portal hiburan. Dalam konteks artis wanita yang berubah gaya, terdapat tekanan sosial yang cukup kuat: antara persepsi “eksploitasi” vs “ekspresi bebas”.

Denada pun mengalami dilema struktural: sebagai wanita publik, tampil seksi bisa dilihat sebagai “mendapat perhatian” namun juga bisa jadi sumber kritik moral atau sosial. Hal ini semakin rumit ketika ia mengambil langkah estetik atau transformasi tertentu. Dengan kata lain, ia harus mengelola ekspektasi publik, identitas dirinya, dan peran sebagai artis sekaligus ibu.


Perspektif Identitas dan Nilai Artistik

Pernyataan Denada tentang “rap sejak SMP” tidak sekadar gimmick — ini menunjukkan bahwa ia ingin dilihat sebagai sosok yang kreatif, berani, dan memiliki akar gaya yang kuat. Bila dilihat dari sudut pandang budaya pop:

  • Gaya “crop top”, jeans melorot, bandana atau akses hip-hop pernah menjadi bagian dari sub-kultur di era 1990-an. Denada mengklaim ia bagian dari era itu.
  • Dengan demikian, gaya saat ini bukanlah transformasi radikal, melainkan evolusi dari dirinya sendiri—untuk mempertahankan identitas yang ia bangun sejak muda.
  • Di bawah sorotan estetika modern dan media sosial, pernyataan semacam ini membantu publik untuk melihat “konteks” bukan hanya “apa yang tampak”.

Peran Sebagai Ibu Tunggal dan Fokus Kehidupan

Selain soal gaya dan penampilan, Denada juga menekankan prioritas hidupnya: anak dan kesejahteraan keluarga kecilnya. Ia menyatakan bahwa:

“Yang terpenting adalah kebahagiaan, kenyamanan, dan kesehatannya.”

Sebagai single mom, ia menavigasi dua dunia: karier sebagai selebriti dan tanggung jawab sebagai ibu. Dalam situasi seperti ini, keputusan penampilan dan karier bukan hanya soal “apa yang bagus di mata orang” tetapi juga “apa yang sesuai dengan hidup pribadi”. Pernyataan dan sikapnya menunjukkan bahwa ia memilih jalan yang ia anggap benar—meskipun tak selalu populer.


Pelajaran bagi Publik: Ekspresi, Konsistensi dan Autentisitas

Beberapa hal penting yang dapat diambil dari kisah Denada:

  • Ekspresi Diri: Setiap orang punya perjalanan dan identitas yang mungkin tidak langsung terlihat—belajar untuk tidak menilai hanya dari bagian paling baru dan paling mencolok.
  • Konsistensi: Denada menegaskan bahwa gaya seksi bukan “yang baru” padanya—yaitu bagian identitas yang sudah lama. Konsistensi dalam menyatakan diri itu penting—untuk keaslian dan kepercayaan diri.
  • Autentisitas dalam Karier Publik: Sebagai figur publik, tantangannya besar — tapi ketika seseorang bisa menyelaraskan penampilan, karier, dan nilai pribadi, hasilnya lebih kuat.
  • Respek terhadap Perjalanan Hidup Orang Lain: Kritik sering datang tanpa melihat sejarah atau konteks—mengetahui bahwa seseorang mungkin sudah melalui tahapan yang panjang membantu membangun empati.

Kesimpulan

Denada memilih untuk membalas kritik dengan ketenangan dan kejelasan: ia bukan sekadar mengikuti gaya, tetapi menjalani identitas yang telah dibentuk sejak remaja. Pernyataannya bahwa ia “rapper sejak SMP” memberi konteks bagi gaya yang ia tampilkan sekarang—dan mengajak publik untuk melihat lebih jauh dari sekadar penampilan.
Bagi Anda, pembaca yang mungkin pernah menghadapi sorakan atau komentar atas penampilan atau perubahan, kisah Denada bisa menjadi inspirasi: tahan terhadap kritik, kenali siapa Anda, dan utamakan kebahagiaan serta kenyamanan pribadi.
Kalau Anda punya pandangan atau pengalaman terkait kritik hingga gaya hidup publik, silakan tinggalkan komentar—mari diskusi bagaimana kita memaknai penampilan, identitas, dan ekspresi diri dalam era media sosial yang cepat menilai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *