Sule Dicap “Pelawak Baperan” Setelah Tolak Di-Roasting: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Pendahuluan
Komedian ternama Indonesia Sule mengguncang dunia hiburan setelah dirinya mengungkap bahwa ia sempat dicap sebagai “pelawak baperan” dan menjadi korban cancel culture akibat menolak di-roasting oleh rekan sejawat. Keputusan yang tampak sederhana ini justru berdampak besar pada image, pekerjaan, serta mental Sule. Artikel ini akan mengulas secara menyeluruh: latar kejadian, alasan penolakan, dampak yang dirasakan Sule, serta pelajaran penting bagi kita semua di era budaya digital saat ini. Tulisan ini dibuat secara manusiawi, ramah pembaca, dan diformat agar ramah mesin pencari.
Kronologi: Dari Tawaran Roasting ke Penolakan
Insiden ini bermula pada tahun 2021 ketika komika Kiky Saputri mengungkap dalam sebuah wawancara bahwa ia diminta untuk ikut me-roasting seorang host acara televisi—beberapa jam sebelum acara live dimulai, host tersebut kemudian menarik diri. Dari pengakuan, host itu ternyata Sule.
Sule kemudian menjelaskan bahwa saat itu kondisi mentalnya sedang kurang baik. Ia takut jika emosi tak stabil muncul di tayangan live dan bisa berdampak buruk bagi dirinya ataupun acara. “Saya bilang sama kreatif, gue lagi nggak bener emosinya. Takutnya ada sesuatu (terjadi)… saya nggak mau,” ujarnya.
Akibat keputusan menolak itu, banyak pihak menyoroti sikapnya dan muncul narasi bahwa Sule adalah “pelawak yang tak tahan dikritik” atau “terlalu sensitif” — label yang kemudian terbawa arus opini publik hingga sekarang.
Dampak Negatif: Image, Pekerjaan dan Cancel Culture
Sule mengakui bahwa tidak hanya image yang terdampak—namanya jadi sering dikaitkan dengan kata “baper”—tapi pekerjaan juga ikut tersentuh. Ia menyebut bahwa ada tawaran yang dicancel setelah isu tersebut muncul.
“Gue kan dihujat habis‐habisan pada waktu itu. Yang cancel pekerjaan, ada.” — Sule
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa di era digital, satu keputusan yang viral—apalagi melibatkan opini publik—bisa mempengaruhi karier secara nyata, bukan sekadar di media sosial.
Analisis: Lebih dari Sekadar “Tolak Roasting”
1. Persoalan Mental & Batas Komedi
Sule menegaskan bahwa penolakan bukanlah karena ia “tak bisa dinikmati” atau tak memiliki sense of humor, tetapi terkait kondisi mentalnya saat itu. Hal ini mengangkat isu penting soal batasan dalam komedi: kapan seseorang boleh ikut roasting dan kapan intervensi kondisi pribadi harus diutamakan.
2. Budaya Roasting & Risiko Publik Figur
Roasting adalah bagian dari budaya komedi—mengolok, mengekspos kelemahan, tertawa bersama atau tertawa atas. Namun bagi publis figur seperti Sule, risiko reputasi cukup besar. Penolakan bisa dipahami, tetapi kemudian label “tidak tahan roasting” atau “baperan” muncul, yang bisa menjadi stigma.
3. Cancel Culture dan Rusaknya Persepsi Publik
Keputusan menolak lalu diterjemahkan ke hujatan dan pembatalan job menunjukkan bagaimana cancel culture bisa bermula: satu interpretasi publik, viral postingan, lalu aksi kolektif (job dibatalkan, komentar miring). Faktanya ini sudah memengaruhi banyak selebritas.
4. Pemulihan Relasi & Reputasi
Sule mengungkap bahwa kini ia telah berdamai dengan Kiky Saputri—“Masalah ini udah selesai. Gue sama Kiky juga nggak ada masalah sebetulnya.” Ini menunjukkan bahwa konflik publik bisa mereda melalui komunikasi dan klarifikasi—meski stigma tetap bisa membekas.
Pelajaran yang Bisa Diambil
- Pentingnya menjaga kondisi mental: meski tampak “profesional” di layar, selebritas pun punya hari sulit. Memilih mengatakan “tidak” bukan selalu berarti gagal, tetapi bisa berarti self-care.
- Brand personal dan batasan komedi: Jika Anda figur publik, penting menetapkan batasan terhadap fitur komedi seperti roasting—apa yang nyaman, apa yang bisa merusak citra.
- Sikap publik & netizen: Sebagai konsumen media, kita juga punya tanggung jawab terhadap bagaimana kita menghakimi keputusan seseorang—apakah terburu-buru memberi cap “baperan”?
- Arti “Damaikan” bukan “Lupakan”: Konflik publik bisa diatasi, tetapi dampaknya mungkin tetap tinggal dalam memori industri dan publik—reputasi butuh waktu untuk pulih.
Kesimpulan
Keputusan Sule menolak roasting oleh Kiky Saputri seakan kecil, tetapi lupa bahwa di ruang publik selebritas, segala hal bisa beresonansi besar—citra, pekerjaan, opini publik. Ia menjadi contoh bahwa figur publik tak hanya “terlihat lucu di layar”, tapi juga manusia dengan daya tahan, batas dan emosi.
Bagi Anda pembaca: mungkin Anda pernah melihat atau mengalami situasi di mana “roasting” atau candaan di forum publik malah menimbulkan luka emosional. Apakah menurut Anda roasting harus punya batas atau standar? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar—agar kita diskusikan bersama bagaimana dunia hiburan bisa lebih manusiawi dan empatik.
