Ketimpangan Gender dalam Akses Air Bersih Melemahkan Ketahanan Global
Air bersih sering dibahas sebagai persoalan infrastruktur, kesehatan, atau lingkungan. Namun, akses terhadap air juga berkaitan erat dengan kesetaraan gender. Ketika sumber air berada jauh dari rumah, layanan sanitasi tidak tersedia, atau pasokan terganggu bencana, perempuan dan anak perempuan kerap menanggung dampak paling besar.
Laporan World Water Development Report 2026 dari UN-Water, yang diterbitkan pada 19 Maret 2026 dengan tema “Water for All People: Equal Rights and Opportunities”, menempatkan ketimpangan gender sebagai salah satu tantangan penting dalam ketahanan air global. Persoalan ini tidak hanya menyangkut siapa yang mengambil air, tetapi juga siapa yang memiliki suara dalam pengelolaan, perencanaan, dan pengambilan keputusan sektor air.
Mengapa perempuan dan anak perempuan paling terdampak?
Di banyak komunitas, perempuan dan anak perempuan masih memikul tanggung jawab utama untuk mengumpulkan serta mengelola air rumah tangga. UN-Water memperkirakan mereka menghabiskan sekitar 250 juta jam setiap hari untuk mengambil air. Waktu tersebut seharusnya dapat digunakan untuk belajar, bekerja, beristirahat, atau berpartisipasi dalam kegiatan sosial.
Beban ini menjadi lebih berat bagi keluarga miskin yang tidak memiliki sambungan air di rumah. Jarak menuju sumber air, antrean panjang, kualitas air yang tidak pasti, dan kebutuhan membawa beban berat dapat meningkatkan risiko kelelahan serta membatasi kesempatan ekonomi. Anak perempuan juga berisiko kehilangan waktu sekolah ketika harus membantu memenuhi kebutuhan air keluarga.
Masalah keselamatan turut menjadi perhatian. Perjalanan menuju sumber air yang jauh dapat membuat perempuan dan anak perempuan lebih rentan terhadap kecelakaan, kekerasan, maupun pelecehan. Karena itu, akses air minum yang aman tidak dapat dipisahkan dari perlindungan, kesehatan, dan hak untuk menjalani kehidupan yang bermartabat.
Kesenjangan layanan WASH memperbesar dampak
Ketahanan air mencakup lebih dari ketersediaan air minum. Layanan WASH—air minum, sanitasi, dan kebersihan—menjadi fondasi bagi kesehatan masyarakat. Data WHO dan UNICEF menunjukkan bahwa 2,1 miliar orang di dunia masih belum memiliki akses terhadap air minum yang dikelola secara aman. Selain itu, 3,4 miliar orang belum memiliki sanitasi yang dikelola secara aman dan 1,7 miliar orang belum memiliki layanan kebersihan dasar di rumah.
Ketiadaan toilet yang layak dan fasilitas kebersihan yang aman dapat berdampak langsung pada perempuan dan anak perempuan, khususnya saat menstruasi, kehamilan, atau ketika berada di sekolah dan tempat kerja. Fasilitas yang tidak terpisah, tidak aman, atau sulit dijangkau dapat mengurangi rasa nyaman serta memengaruhi kehadiran di sekolah dan produktivitas. Informasi resmi yang berkaitan dengan pembahasan ini juga tersedia pada halaman Politics.
Dampaknya juga meluas pada kesehatan keluarga. Ketika air terkontaminasi atau jumlahnya terbatas, risiko penyakit meningkat. Perempuan yang biasanya bertanggung jawab atas perawatan anggota keluarga dapat kembali menanggung beban tambahan ketika terjadi masalah kesehatan akibat layanan air dan sanitasi yang buruk.
Perubahan iklim membuat ketimpangan semakin tajam
Perubahan iklim, kelangkaan air, dan bencana dapat memperburuk kesenjangan yang sudah ada. Kekeringan membuat jarak pengambilan air semakin jauh, sedangkan banjir dan badai dapat merusak sumur, jaringan perpipaan, toilet, serta fasilitas pengolahan air.
Dalam situasi darurat, kebutuhan perempuan dan anak perempuan tidak selalu tercermin dalam perencanaan. Fasilitas sementara mungkin belum menyediakan penerangan, ruang privat, air untuk kebersihan menstruasi, atau toilet yang aman. Padahal, layanan dasar yang tetap berfungsi ketika terjadi krisis merupakan bagian penting dari ketahanan masyarakat.
Kaitan antara iklim dan gender juga terlihat dalam mata pencaharian. Ketika air untuk pertanian, peternakan, atau usaha rumah tangga berkurang, perempuan yang bekerja di sektor informal dan ekonomi berbasis keluarga dapat kehilangan pendapatan. Dampaknya tidak selalu tercatat karena data mengenai penggunaan waktu, pekerjaan, dan akses layanan sering belum dipisahkan berdasarkan gender.
Perempuan masih kurang terwakili dalam tata kelola air
Perempuan sering menjadi pengguna dan pengelola air di tingkat rumah tangga, tetapi keterwakilan mereka dalam kepemimpinan, pekerjaan teknis, serta lembaga pengambilan keputusan sektor air masih terbatas. Ketimpangan ini membuat pengalaman sehari-hari kelompok yang paling terdampak tidak selalu masuk ke dalam desain kebijakan.
Padahal, keputusan tentang lokasi sumber air, jadwal distribusi, biaya layanan, desain toilet, dan rencana menghadapi bencana akan lebih kuat jika disusun dengan mendengar pengguna yang beragam. Pelibatan perempuan bukan sekadar memenuhi target keterwakilan. Partisipasi tersebut dapat membantu memastikan bahwa kebijakan benar-benar menjawab kebutuhan rumah tangga, sekolah, fasilitas kesehatan, dan komunitas.
Pembahasan mengenai ketimpangan gender dalam akses air bersih juga perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Seperti dijelaskan dalam artikel Krisis Air Global: Penyebab, Dampak, dan Solusinya, persoalan air dipengaruhi oleh perubahan iklim, pencemaran, pertanian, dan tata kelola. Semua faktor tersebut dapat menghasilkan dampak yang berbeda bagi laki-laki, perempuan, anak-anak, kelompok miskin, dan masyarakat yang tinggal di wilayah rentan.
Solusi untuk memperkuat ketahanan air yang setara
1. Membangun tata kelola yang inklusif
Pemerintah dan pengelola layanan perlu membuka ruang partisipasi yang bermakna bagi perempuan dalam perencanaan dan evaluasi program air. Forum warga, lembaga pengelola air, dan proses konsultasi harus dirancang agar suara perempuan tidak hanya hadir secara simbolis, tetapi ikut memengaruhi keputusan.
2. Memperbaiki data terpilah
Data berdasarkan gender, usia, lokasi, kondisi ekonomi, dan disabilitas membantu mengungkap siapa yang paling tertinggal. Pengukuran tidak cukup hanya mencatat apakah sebuah wilayah memiliki sumber air. Kualitas, jarak, waktu pengambilan, keterjangkauan biaya, keamanan, serta keandalan layanan juga perlu diperhatikan.
3. Berinvestasi pada layanan yang tangguh terhadap iklim
Infrastruktur air dan sanitasi harus dirancang untuk menghadapi kekeringan, banjir, dan bencana lainnya. Investasi dapat mencakup perlindungan sumber air, pemeliharaan jaringan, sistem peringatan dini, cadangan pasokan, serta fasilitas sanitasi yang aman dan mudah digunakan.
4. Memperkuat kapasitas dan pembiayaan
GLAAS 2025 menekankan bahwa perluasan layanan WASH memerlukan kebijakan, kelembagaan, pemantauan, regulasi, sumber daya manusia, pembiayaan, dan partisipasi lokal. Tanpa pengelolaan yang konsisten, pembangunan fasilitas baru tidak selalu menjamin layanan yang berkelanjutan.
5. Membuka peluang perempuan di sektor air
Kesetaraan juga harus diterapkan pada pekerjaan teknis, penelitian, kepemimpinan, dan pengelolaan layanan. Pelatihan, rekrutmen yang adil, lingkungan kerja yang aman, serta kesempatan memimpin dapat membantu memperkaya perspektif dalam sektor air.
Ketahanan air membutuhkan kesetaraan
Ketimpangan akses air bukan persoalan yang berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan kemiskinan, kesehatan, pendidikan, keselamatan, pekerjaan, perubahan iklim, dan kualitas tata kelola. Selama perempuan dan anak perempuan masih menanggung beban pengumpulan air tanpa memiliki pengaruh yang setara dalam keputusan, ketahanan air global belum dapat disebut inklusif.
Upaya mencapai akses air untuk semua harus memastikan bahwa layanan dasar tersedia secara aman, terjangkau, andal, dan tahan terhadap krisis. Perspektif ini juga relevan dalam momentum World Water Day: What To Know About The Water Crisis, ketika perhatian publik diarahkan pada pentingnya air bagi kehidupan dan pembangunan.
Memperkuat ketahanan air berarti memperbaiki infrastruktur sekaligus mengubah cara kebijakan disusun. Dengan data yang lebih baik, investasi yang responsif terhadap iklim, dan pelibatan perempuan dalam pengambilan keputusan, akses air dapat menjadi lebih adil bagi seluruh masyarakat.
