Baim Wong Siap Remake Film Korea “Tunnel”: Tantangan Besar Bawa Cita Rasa Indonesia
Pendahuluan
Aktor dan produser ternama Baim Wong kembali membuat gebrakan di industri film Indonesia. Kali ini bukan sekadar merilis film lokal, tetapi akan menggarap remake film Korea populer “Tunnel” — sebuah proyek ambisius yang ingin menghadirkan kisah thriller dengan “jiwa” Indonesia. Tawaran ini dianggap sebagai peluang besar bagi Baim, namun sekaligus penuh tantangan kreatif dan budaya.
Dalam wawancara eksklusif, Baim menyampaikan bahwa keterlibatannya tidak instan; butuh pertimbangan panjang, negosiasi lintas negara, dan kesungguhan dari studio Korea. Ia juga mendapat kebebasan mengubah skenario agar tidak kehilangan identitas lokal. Artikel ini akan menyajikan detail proyek, latar film asli, strategi Baim, serta tantangan dan harapan yang melekat.
Film “Tunnel” — Kisah Asli & Daya Tarik
Sebelum bicara adaptasi, kita perlu memahami film aslinya agar tahu seberapa dalam pondasi adaptasi bisa digarap:
- Tunnel (2016) adalah film thriller / survival Korea Selatan yang disutradarai Kim Seong-hun, dibintangi Ha Jung-woo, Bae Doona, dan Oh Dal-su.
- Ceritanya mengikuti seorang sales mobil yang terjebak dalam terowongan yang runtuh secara tiba-tiba setelah keruntuhan konstruksi buruk. Ia berjuang hidup sambil berkomunikasi dengan tim penyelamat, dengan tekanan waktu sangat tinggi.
- Film ini mendapat pujian karena ketegangan dramatis, visual detail, dan penggambaran sisi kemanusiaan serta titik kritis sistem penyelamatan.
Karena premisnya kuat dan tema universal tentang bencana & keberlangsungan, banyak studio internasional tertarik membuat adaptasi atau remake—termasuk tawaran kepada Baim.
Proses Negosiasi & Komitmen Baim Wong
Tawaran remake film “Tunnel” tidak datang sekali atau dari satu pihak saja. Baim menyebut bahwa selama ini sudah ada beberapa versi remake yang ditawarkan dari beberapa production house (PH) luar negeri, tetapi tidak semua serius.
Beberapa poin penting dalam proses Baim:
- Keseriusan studio Korea
Baim menegaskan bahwa ia tertarik karena studio Korea “berbeda” menunjukkan kesungguhan dan memberi ruang kolaborasi. - Perjalanan bolak-balik Jakarta–Korea
Untuk memastikan visi bersama, tim Baim disebut telah melakukan perjalanan bolak-balik antara Indonesia dan Korea sebanyak 4–5 kali. - Kebebasan dalam adaptasi naskah
Poin yang sangat penting: Baim diberi keleluasaan untuk mengubah skenario agar sesuai konteks Indonesia, tidak harus replika film aslinya. “Karya saya tetap karya saya, karya mereka tetap karya mereka,” katanya. - Sentuhan lokal sebagai kekuatan
Walau ini remaking karya asing, Baim ingin elemen lokal Indonesia — budaya, latar, karakter sosial lokal — tetap hadir kuat dalam film versi Indonesia - Momentum dari keberhasilan film sebelumnya
Keputusan ini juga dipicu oleh kesuksesan dua film garapannya: Sukma dan Lembayung. Baim menyebut bahwa film-film itu sudah dikenal bahkan di Korea.
Tantangan dan Hambatan yang Harus Dihadapi
Meremake film sukses luar negeri bukan pekerjaan mudah. Beberapa tantangan yang kemungkinan besar akan dihadapi:
1. Ekspektasi Penonton & Perbandingan Langsung
Penonton yang sudah mengenal film “Tunnel” versi Korea akan membandingkan secara langsung: apakah versi Indonesia bisa memberi ketegangan yang sama atau bahkan lebih baik?
2. Adaptasi Budaya & Konteks Lokal
Beberapa elemen cerita (misalnya sistem penyelamatan, infrastruktur, birokrasi) harus diubah agar terasa relevan di Indonesia tetapi perubahan ini harus dijalankan hati-hati agar esensi cerita tetap utuh.
3. Teknik Produksi & Sumber Daya Teknis
Film seperti Tunnel membutuhkan efek visual, set terowongan realistis, penataan cahaya & suara yang detil, serta kru teknis kelas atas. Investasi teknis dan anggaran harus disiapkan matang.
4. Kerja sama lintas negara & logistik
Proyek internasional berarti harus mengatur izin hak cipta, legal kontrak antar negara, aspek bahasa, dan koordinasi produksi agar tidak ada konflik teknis atau hukum.
5. Keseimbangan antara kreativitas dan ekspektasi komersial
Mengubah cerita terlalu jauh bisa membuat penggemar versi asli kecewa; menjaga kemiripan terlalu ketat bisa membuat film kehilangan “jiwa lokal.”
Peluang & Harapan Besar
Meski penuh tantangan, adaptasi “Tunnel” versi Indonesia juga punya banyak peluang:
- Menembus pasar Asia
Dengan keterlibatan Korea, film ini punya potensi distribusi yang lebih luas di Asia, memperkenalkan perfilman Indonesia ke khalayak global. - Meningkatkan kualitas perfilman lokal
Proyek seperti ini bisa menjadi benchmark tinggi, mendorong produksi film Indonesia lain agar standar teknis dan naratifnya semakin tinggi. - Menunjukkan kemampuan adaptasi lokal
Jika berhasil, film ini akan menjadi contoh bahwa film asing bisa dihadirkan kembali dengan karakter lokal tanpa kehilangan kualitas. - Memperkuat identitas Indonesia di perfilman dunia
Melalui film adaptasi yang kuat, penonton bukan hanya melihat cerita yang sama, tetapi versi yang punya identitas Indonesia — budaya, karakter, nuansa lokal — sebagai nilai tambah.
Proyeksi Jadwal & Strategi
Berdasarkan laporan Liputan6 dan Kapanlagi:
- Remake “Tunnel” versi Indonesia kemungkinan akan memulai proses syuting pada 2026.
- Tahapan pra-produksi (penulisan naskah, desain set, casting, lokasi) sudah dimulai karena negosiasi dan adaptasi naskah memakan waktu cukup lama.
- Produksi teknik tinggi seperti pencahayaan, efek khusus, dan rekaman suara akan jadi fase krusial agar hasil tidak kalah dibanding versi asli Korea.
- Strategi pemasaran anticipate: promosi lintas negara (Indonesia–Korea), teaser pembanding, trailer lokal yang menekankan ciri khas Indonesia agar menarik penonton domestik dan fans genre thriller.

Kesimpulan
Langkah Baim Wong memutuskan remake film Korea Tunnel adalah sebuah lompatan berani dalam kariernya dari film lokal ke kolaborasi internasional dengan tantangan teknis dan kreatif tinggi. Namun jika dijalankan dengan visi kuat, keaslian lokal, dan kualitas tinggi, film ini bisa jadi karya kebanggaan Indonesia yang mampu bersaing lintas batas.
Kita semua akan menantikan bagaimana versi Indonesia dari “Tunnel” akan menjadi jembatan antara cerita universal dan identitas lokal— sebuah karya yang tidak sekadar adaptasi, tetapi transformasi cerita agar bisa hidup di nuansa budaya kita sendiri.
