Ekonomi Indonesia Hari Ini: Rupiah Tertekan, IHSG Melemah, dan Harga Pangan Jelang Nataru Jadi Sorotan (23 Desember 2025)
Jakarta — Memasuki akhir tahun, dinamika ekonomi Indonesia pada Selasa, 23 Desember 2025 bergerak dalam tiga isu utama: nilai tukar rupiah yang kembali berada di bawah tekanan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah di sesi perdagangan, serta perhatian publik pada harga pangan jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Di sisi kebijakan, langkah Bank Indonesia (BI) dan pemerintah terkait stabilitas rupiah—termasuk aturan devisa hasil ekspor—ikut menjadi sentimen yang dicermati pelaku pasar dan masyarakat.
Rupiah hari ini: kembali “lesu” di zona merah
Pergerakan rupiah menjadi perhatian karena fluktuasinya berpengaruh langsung pada harga impor, biaya produksi, hingga persepsi investor. Pada perdagangan 23/12/2025, rupiah dilaporkan ditutup melemah tipis terhadap dolar AS setelah sempat bergerak menguat di awal sesi.
Tekanan terhadap rupiah ini terjadi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Bank Indonesia, dalam beberapa kesempatan, menegaskan fokus menjaga stabilitas nilai tukar sebagai prioritas, termasuk melalui intervensi di pasar. Reuters sebelumnya menulis BI mempertahankan suku bunga acuan dan menekankan stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian pasar global.
Di level kebijakan, BI pada Rapat Dewan Gubernur 16–17 Desember 2025 memutuskan menahan BI-Rate di 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility 3,75% dan Lending Facility 5,50%. BI menyatakan keputusan itu konsisten untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus memperkuat transmisi pelonggaran kebijakan yang sudah ditempuh untuk mendorong perekonomian.
IHSG 23 Desember 2025: melemah, pasar menunggu arah sentimen
Selain rupiah, pasar saham juga mencerminkan sikap “wait and see”. Pada sesi pertama perdagangan hari ini, IHSG dilaporkan melemah ke area 8.614 (turun sekitar 0,37%) menurut laporan media pasar.
Kontan juga melaporkan IHSG memulai perdagangan dalam posisi turun tipis, meski bursa Asia cenderung menguat, menggambarkan adanya kehati-hatian investor domestik.
Sementara Antara menyoroti IHSG cenderung bergerak mendatar dengan pelaku pasar mencermati perkembangan tertentu yang menjadi sentimen.
Bagi investor ritel, kombinasi rupiah yang sensitif dan IHSG yang melemah umumnya memunculkan dua respons: sebagian memilih bertahan pada sektor defensif, sebagian menunggu katalis data dan kebijakan berikutnya. Situasi seperti ini juga lazim terjadi menjelang libur panjang, ketika likuiditas pasar berkurang dan volatilitas bisa meningkat.
Sorotan jelang Nataru: harga pangan dan Minyakita
Isu ekonomi yang paling terasa langsung oleh masyarakat adalah harga kebutuhan pokok. Menjelang Nataru, data dan laporan harga pangan rutin jadi perhatian karena mempengaruhi belanja rumah tangga.
Pada 23 Desember 2025, Tempo melaporkan harga Minyakita rata-rata nasional melampaui harga eceran tertinggi (HET).
MetroTV juga memuat pembaruan daftar harga pangan harian jelang Nataru yang mencakup minyak goreng dan komoditas lain.
Di sisi pemerintah, Kementerian Pertanian mencatat temuan lapangan terkait harga minyak goreng yang dijual di atas HET pada inspeksi pasar.
Rangkaian data ini menunjukkan dua hal: pertama, permintaan jelang libur akhir tahun sering meningkatkan tekanan harga; kedua, pengawasan dan distribusi menjadi kunci agar kenaikan tidak berlarut. Untuk konsumen, dampaknya nyata—terutama pada kelompok rumah tangga yang pengeluaran bulanannya sensitif terhadap perubahan harga bahan pokok.
Kredit dan konsumsi: BI melihat permintaan masih lemah
Dari sisi aktivitas ekonomi, perhatian juga tertuju pada laju kredit dan pembiayaan. Antara melaporkan pernyataan BI bahwa pertumbuhan kredit 2025 tertahan, dipengaruhi oleh permintaan yang lemah dan biaya dana yang masih tinggi.
Kondisi ini penting dibaca karena kredit sering menjadi indikator apakah sektor rumah tangga dan dunia usaha benar-benar ekspansif atau justru menahan belanja/investasi. Ketika permintaan kredit melambat, pelonggaran kebijakan moneter belum tentu langsung “menetes” ke aktivitas ekonomi riil—apalagi bila pelaku usaha masih berhitung karena ketidakpastian.
Kebijakan pemerintah: aturan devisa ekspor untuk stabilisasi rupiah
Di tengah tekanan rupiah, pemerintah menyiapkan langkah struktural untuk memperkuat pasokan valuta asing di dalam negeri. Reuters melaporkan Indonesia akan menerapkan aturan yang mewajibkan eksportir sumber daya alam menahan devisa hasil ekspor (DHE) lebih lama di bank milik negara, dan pemerintah menyiapkan instrumen investasi untuk mendukung kebijakan tersebut.
Tujuan besarnya adalah memperkuat likuiditas dolar di dalam negeri agar stabilisasi rupiah lebih efektif. Namun, Reuters juga mencatat adanya kekhawatiran dari asosiasi industri karena kebutuhan operasional eksportir yang sering memerlukan likuiditas rupiah, sehingga desain kebijakan dan mekanisme pendukungnya akan sangat menentukan.
Di saat yang sama, kerja sama internasional juga diarahkan pada penguatan transaksi berbasis mata uang lokal. Reuters melaporkan Jepang dan Indonesia menandatangani kerja sama untuk mendorong transaksi bilateral memakai mata uang lokal, yang pada prinsipnya dapat membantu mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam perdagangan tertentu.
Apa arti rangkaian isu ini untuk publik?
Kalau diringkas, ekonomi Indonesia hari ini seperti berada dalam “persimpangan akhir tahun”:
- Rupiah bergerak sensitif, sehingga kebijakan stabilisasi tetap jadi fokus.
- IHSG melemah dan pasar cenderung hati-hati menunggu arah sentimen.
- Harga pangan jelang Nataru menjadi isu yang paling dekat ke rumah tangga, terutama Minyakita dan minyak goreng.
- Kredit yang tertahan memberi sinyal pemulihan permintaan domestik belum sepenuhnya solid.
- Pemerintah dan BI memperkuat kebijakan dari sisi likuiditas valas dan stabilitas rupiah, termasuk melalui aturan DHE ekspor.
Bagi masyarakat, yang paling terasa adalah harga kebutuhan dan kestabilan daya beli. Bagi pelaku pasar, yang dicermati adalah konsistensi kebijakan serta arah rupiah—karena itu mempengaruhi valuasi aset, biaya impor, dan ekspektasi pertumbuhan.
Outlook singkat: apa yang perlu dipantau setelah 23 Desember?
Dalam beberapa hari ke depan (menjelang libur panjang), ada beberapa indikator yang biasanya menentukan suasana ekonomi:
- Pergerakan rupiah dan respons BI di pasar (apakah stabil atau volatil).
- Tren IHSG menjelang penutupan tahun dan rotasi sektor.
- Harga pangan—terutama minyak goreng dan komoditas strategis—apakah kembali mendekati HET atau tetap di atas.
- Detail implementasi kebijakan DHE dan instrumen investasi yang disiapkan pemerintah.
Rangkuman
Pada 23 Desember 2025, ekonomi Indonesia diwarnai tekanan rupiah, IHSG yang melemah, serta sorotan harga pangan jelang Nataru—termasuk Minyakita yang dilaporkan melampaui HET. BI menahan BI-Rate di 4,75% untuk stabilitas rupiah, sementara pemerintah menyiapkan aturan devisa hasil ekspor dan instrumen investasi guna memperkuat likuiditas valas domestik.
