Kesenjangan Pendanaan Adaptasi Iklim Global
Ketika banjir semakin sering, gelombang panas mengancam kesehatan, atau kekeringan mengganggu produksi pangan, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar bantuan darurat. Mereka memerlukan infrastruktur yang lebih tangguh, sistem peringatan dini, layanan kesehatan yang siap menghadapi risiko iklim, serta perlindungan sosial bagi kelompok paling rentan. Semua kebutuhan itu bergantung pada ketersediaan pendanaan adaptasi iklim.
Masalahnya, dana yang mengalir ke negara berkembang masih jauh lebih kecil dibandingkan kebutuhan yang diperkirakan. Kesenjangan tersebut membuat banyak negara kesulitan melindungi warganya dari dampak perubahan iklim, meskipun risiko yang mereka hadapi terus meningkat.
Apa yang dimaksud dengan pendanaan adaptasi iklim?
Pendanaan adaptasi iklim adalah pembiayaan yang digunakan untuk mengurangi kerentanan masyarakat, ekonomi, dan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim. Berbeda dari mitigasi yang berfokus pada pengurangan emisi gas rumah kaca, adaptasi berupaya membantu manusia dan sistem alam menghadapi perubahan yang sudah terjadi atau tidak dapat sepenuhnya dihindari.
Dalam kerangka UNFCCC, pendanaan iklim dapat berasal dari sumber publik, swasta, maupun sumber alternatif. Pembiayaan tersebut dapat mendukung mitigasi dan adaptasi, termasuk berbagai program yang disesuaikan dengan kebutuhan serta prioritas negara berkembang.
Contoh penggunaan dana adaptasi meliputi:
- pembangunan infrastruktur yang lebih tahan terhadap banjir, badai, panas ekstrem, dan kenaikan muka laut;
- pengelolaan air untuk menghadapi kekeringan dan perubahan pola hujan;
- pengembangan pertanian serta ketahanan pangan;
- penguatan layanan kesehatan dan perlindungan sosial;
- pembangunan sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan bencana;
- perlindungan masyarakat pesisir serta kelompok yang paling rentan.
Seberapa besar kesenjangan pendanaannya?
Laporan UNEP memperkirakan kebutuhan pendanaan adaptasi negara berkembang pada 2035 mencapai sekitar US$310 miliar per tahun berdasarkan biaya pemodelan. Jika perhitungan menggunakan kebutuhan yang tercantum dalam National Adaptation Plans dan Nationally Determined Contributions, angkanya meningkat menjadi sekitar US$365 miliar per tahun.
Sementara itu, aliran pendanaan adaptasi publik internasional kepada negara berkembang tercatat sekitar US$26 miliar pada 2023. Jumlah ini turun dari sekitar US$28 miliar pada 2022. Dengan demikian, kebutuhan pada 2035 diperkirakan 12–14 kali lebih besar dibandingkan aliran pendanaan publik adaptasi internasional pada 2023.
Angka tersebut menggambarkan persoalan struktural, bukan sekadar kekurangan dana dalam satu atau dua program. Negara berkembang membutuhkan pembiayaan yang konsisten selama bertahun-tahun untuk merancang, membangun, merawat, dan mengevaluasi proyek adaptasi. Tanpa aliran dana yang dapat diprediksi, pemerintah akan kesulitan menyusun perencanaan jangka panjang.
Mengapa negara rentan sulit memperoleh pembiayaan?
Risiko tinggi dan kapasitas fiskal terbatas
Banyak negara rentan menghadapi risiko iklim yang besar, tetapi memiliki ruang fiskal yang terbatas. Bencana dapat merusak infrastruktur, mengurangi pendapatan, dan meningkatkan kebutuhan belanja publik secara bersamaan. Kondisi ini menyulitkan pemerintah menyediakan pembiayaan dari anggaran nasional, terutama ketika kebutuhan pembangunan dasar masih tinggi.
Adaptasi tidak selalu menghasilkan keuntungan langsung
Proyek adaptasi sering memberikan manfaat besar bagi masyarakat, tetapi tidak selalu menghasilkan pendapatan yang mudah diukur. Sistem drainase, tanggul, layanan kesehatan, dan peringatan dini terutama bekerja dengan mencegah kerugian. Karena manfaatnya berupa risiko yang berhasil dikurangi, proyek semacam ini kurang menarik bagi investor yang mencari pengembalian finansial secara langsung.
Proses pengajuan yang rumit
Akses terhadap dana iklim juga dapat terhambat oleh persyaratan administrasi, kapasitas teknis, serta proses persetujuan yang panjang. Negara atau pemerintah daerah yang paling membutuhkan dana belum tentu memiliki sumber daya untuk menyiapkan proposal, studi kelayakan, pengukuran dampak, dan pelaporan sesuai tuntutan lembaga pembiayaan.
Karena itu, besarnya dana yang tersedia tidak otomatis berarti dana tersebut mudah digunakan. Akses yang rumit dapat membuat pembiayaan terlambat sampai ke komunitas yang menghadapi risiko paling mendesak.
Memahami jenis pembiayaan adaptasi
Perbedaan antara jenis pembiayaan penting untuk menilai apakah dukungan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kondisi negara penerima.
Hibah
Hibah merupakan dana yang tidak perlu dikembalikan. Instrumen ini sangat penting bagi negara dan komunitas dengan kapasitas fiskal terbatas, terutama untuk proyek publik yang manfaatnya luas tetapi tidak menghasilkan pendapatan komersial. Hibah juga dapat membantu membiayai tahap awal perencanaan, pemetaan risiko, dan penguatan kapasitas lembaga.
Pinjaman lunak
Pinjaman lunak memiliki persyaratan yang lebih ringan dibandingkan pinjaman komersial, misalnya biaya pembiayaan yang lebih rendah atau masa pengembalian yang lebih panjang. Instrumen ini dapat membantu membiayai proyek besar, tetapi tetap perlu dikelola hati-hati agar tidak menambah tekanan utang negara berkembang.
Investasi swasta
Sektor swasta berpotensi memberikan kontribusi lebih besar terhadap pendanaan adaptasi, khususnya pada bidang seperti infrastruktur, pertanian, air, dan teknologi. Namun, investasi swasta biasanya memerlukan kepastian kebijakan, proyeksi pendapatan, dan tingkat risiko yang dapat diterima. Tidak semua kebutuhan adaptasi memenuhi kriteria tersebut.
Pembiayaan campuran
Pembiayaan campuran menggabungkan dana publik atau konsesional dengan modal swasta untuk mengurangi risiko dan menarik investasi tambahan. Skema ini dapat membantu membuat proyek adaptasi lebih layak dibiayai. Meski demikian, pembiayaan campuran bukan pengganti hibah dan dukungan publik, terutama untuk kebutuhan dasar yang tidak memiliki model bisnis komersial.
Mengapa kualitas pendanaan sama pentingnya dengan jumlahnya?
Menutup kesenjangan pendanaan tidak cukup hanya dengan meningkatkan nilai dana. Cara dana diberikan juga menentukan dampaknya. UNFCCC menekankan pentingnya pembiayaan yang mudah diakses, dapat diprediksi, berkelanjutan, serta disesuaikan dengan kebutuhan dan prioritas negara berkembang.
Pendanaan yang terlalu banyak berbentuk pinjaman dapat memperbesar beban utang, khususnya ketika negara penerima baru saja mengalami bencana atau menghadapi perlambatan ekonomi. Karena itu, hibah dan pinjaman dengan konsesi tinggi memiliki peran penting. Keduanya dapat membantu negara membiayai perlindungan masyarakat tanpa mengorbankan kemampuan membayar layanan publik lainnya.
Transparansi juga diperlukan agar negara penerima dapat mengetahui berapa dana yang tersedia, kapan dana dicairkan, dan apa saja persyaratan penggunaannya. Kepastian semacam ini memungkinkan pemerintah menyusun proyek secara lebih realistis dan mengurangi risiko pembiayaan berhenti di tengah jalan.
Pendekatan berbasis kebutuhan untuk memperbaiki akses
UNFCCC mengembangkan pendekatan needs-based finance untuk membantu negara berkembang menilai kebutuhan pendanaan mereka. Pendekatan ini berupaya menerjemahkan kebutuhan adaptasi dan mitigasi menjadi proyek yang dapat dilaksanakan, sekaligus memperkuat kemampuan negara dalam mengakses sumber pembiayaan.
Kerangka tersebut penting karena kebutuhan setiap negara berbeda. Negara kepulauan mungkin lebih memprioritaskan perlindungan pesisir dan kenaikan muka laut, sementara negara lain membutuhkan pengelolaan air, pertanian tahan kekeringan, atau perlindungan kesehatan dari panas ekstrem. Pendanaan yang efektif perlu mengikuti konteks tersebut, bukan menggunakan satu pola yang sama untuk semua negara.
Apa arti kesenjangan ini bagi masyarakat?
Kesenjangan pendanaan adaptasi iklim pada akhirnya bukan hanya persoalan angka dalam laporan internasional. Dampaknya dapat terlihat dalam kualitas perlindungan banjir, ketahanan layanan kesehatan, keamanan pangan, dan kemampuan masyarakat pulih setelah bencana.
Jika pembiayaan tidak mencukupi, negara rentan dapat dipaksa memilih antara membangun perlindungan baru dan memperbaiki kerusakan lama. Sebaliknya, pendanaan yang cukup, terjangkau, transparan, dan sesuai kebutuhan dapat membantu pemerintah beralih dari respons darurat menuju pencegahan serta kesiapsiagaan.
Besarnya kebutuhan hingga 2035 menunjukkan bahwa pendanaan adaptasi iklim akan tetap menjadi isu utama dalam agenda pembangunan global. Tantangannya bukan hanya bagaimana menghimpun lebih banyak dana, tetapi juga memastikan dana tersebut dapat diakses oleh negara yang membutuhkan, tidak memperbesar beban utang, dan benar-benar menghasilkan perlindungan bagi masyarakat yang paling terdampak.
