Solusi Jangka Panjang bagi Pengungsi Internal akibat Bencana
Bencana tidak selalu berakhir ketika air surut, gempa berhenti, atau status tanggap darurat dicabut. Bagi sebagian warga, rumah telah rusak, mata pencaharian hilang, dokumen tidak tersedia, dan layanan dasar belum kembali. Mereka mungkin tinggal di tempat penampungan, rumah kerabat, atau wilayah lain untuk waktu yang panjang. Karena itu, solusi pengungsi internal akibat bencana perlu melampaui evakuasi sementara dan bantuan darurat.
Pengungsi internal adalah orang atau kelompok yang terpaksa meninggalkan rumahnya, tetapi masih berada di dalam wilayah negaranya sendiri. Mereka berbeda dari pengungsi lintas negara karena tidak melewati perbatasan internasional. Dengan demikian, tanggung jawab utama untuk melindungi hak dan memenuhi kebutuhan mereka tetap berada pada negara asal, dengan dukungan lembaga kemanusiaan, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Memahami perbedaan evakuasi, pengungsian, dan solusi jangka panjang
Evakuasi biasanya merupakan perpindahan segera untuk menyelamatkan warga dari ancaman langsung. Sifatnya dapat sementara, misalnya ketika masyarakat dipindahkan ke tempat yang lebih aman selama bencana berlangsung. Namun, evakuasi tidak otomatis berarti persoalan telah selesai.
Pengungsian berkepanjangan terjadi ketika warga belum dapat kembali karena rumah, lingkungan, keamanan, layanan dasar, atau sumber penghidupan belum pulih. Perpindahan akibat bencana juga dapat berulang. Satu keluarga mungkin kembali setelah kondisi membaik, lalu harus berpindah lagi ketika banjir, longsor, kekeringan, atau bencana lain kembali terjadi.
Solusi jangka panjang berarti terciptanya kondisi agar warga dapat menjalani kehidupan yang aman, bermartabat, dan berkelanjutan. Pilihannya dapat berupa kepulangan yang aman dan sukarela, integrasi lokal di tempat mengungsi, atau penyelesaian di lokasi lain dalam wilayah negara yang sama.
Skala persoalan pengungsian internal
Data Internal Displacement Monitoring Centre menunjukkan bahwa pengungsian internal merupakan persoalan global berskala besar. Sekitar 84,3 juta orang hidup dalam kondisi pengungsian internal pada akhir 2024. Dalam laporan IDMC tentang 2025, sekitar 13,6 juta orang tercatat masih mengungsi secara internal akibat bencana pada akhir tahun tersebut.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa perpindahan akibat bencana tidak selalu singkat dan tidak selalu selesai setelah fase penyelamatan. Ketika pemulihan berjalan lambat atau risiko di lokasi asal tetap tinggi, warga dapat menghadapi ketidakpastian selama berbulan-bulan atau lebih lama. Situasi ini juga tidak boleh langsung disamakan dengan migrasi iklim permanen, karena sebagian perpindahan bersifat sementara atau berulang.
Pilar utama solusi jangka panjang
1. Memulihkan tempat tinggal dan mata pencaharian
Rumah yang dibangun kembali perlu aman dari risiko yang sama atau risiko baru. Pemulihan tidak cukup hanya menyediakan bangunan, tetapi juga harus mempertimbangkan akses terhadap air, sanitasi, listrik, pendidikan, layanan kesehatan, transportasi, dan ruang sosial.
Mata pencaharian juga menjadi bagian penting. Warga yang kehilangan lahan, alat kerja, usaha, atau pekerjaan membutuhkan dukungan untuk kembali memperoleh penghasilan. Tanpa pemulihan ekonomi, kepulangan dapat terjadi secara administratif, tetapi tidak benar-benar berkelanjutan.
2. Mengembalikan dokumen dan akses terhadap hak
Dokumen identitas, bukti kepemilikan, catatan kelahiran, serta dokumen lain sering hilang atau rusak ketika bencana terjadi. Padahal, dokumen tersebut diperlukan untuk mengakses bantuan, sekolah, layanan kesehatan, pekerjaan, perlindungan sosial, dan proses hukum.
Pemerintah perlu memastikan penggantian dokumen dapat dilakukan secara mudah, terjangkau, dan tidak diskriminatif. Warga juga perlu mengetahui ke mana harus mengadu ketika mengalami hambatan dalam memperoleh layanan atau haknya.
3. Mengurangi risiko bencana di lokasi asal
Kepulangan tidak akan bertahan jika masyarakat dikembalikan ke tempat yang masih menghadapi ancaman serius tanpa perlindungan yang memadai. Karena itu, pemulihan harus dihubungkan dengan pengurangan risiko bencana, penataan ruang, sistem peringatan dini, perlindungan lingkungan, serta adaptasi terhadap perubahan iklim.
Perencanaan juga perlu memakai informasi tentang risiko yang dapat berulang. Pembangunan kembali seharusnya tidak memperbesar kerentanan melalui lokasi yang tidak aman, infrastruktur yang lemah, atau layanan publik yang sulit dijangkau.
Tiga pilihan penyelesaian yang perlu dilindungi
Kepulangan yang aman dan sukarela
Kepulangan dapat menjadi pilihan apabila kondisi keamanan, perumahan, layanan dasar, dan penghidupan memungkinkan. Keputusan kembali harus diberikan secara sukarela dan berdasarkan informasi yang memadai, bukan karena bantuan di tempat pengungsian dihentikan atau warga tidak memiliki pilihan lain.
Pemerintah perlu memantau apakah warga yang pulang benar-benar dapat mengakses layanan, memulihkan aset, dan hidup tanpa ancaman diskriminasi maupun pengusiran.
Integrasi lokal
Sebagian warga mungkin memilih tinggal di daerah tempat mereka mengungsi. Integrasi lokal berarti mereka dapat menetap secara aman dan memperoleh akses yang setara terhadap perumahan, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dokumen, dan perlindungan sosial.
Proses ini perlu memperhatikan hubungan dengan masyarakat penerima. Persaingan atas lahan, pekerjaan, atau layanan dapat menimbulkan ketegangan apabila tidak dikelola secara terbuka dan adil. Karena itu, kebijakan integrasi sebaiknya melibatkan warga terdampak dan komunitas setempat.
Penyelesaian di lokasi lain melalui relokasi terencana
Relokasi dapat dipertimbangkan ketika lokasi asal tidak lagi aman atau tidak memungkinkan untuk dihuni secara berkelanjutan. Namun, relokasi bukan sekadar memindahkan rumah dari satu tempat ke tempat lain.
Lokasi baru harus aman, memiliki akses terhadap layanan dasar, menyediakan peluang penghidupan, dan mempertimbangkan ikatan sosial serta budaya masyarakat. Warga perlu dilibatkan melalui konsultasi dan partisipasi yang bermakna. Mereka juga harus memperoleh informasi yang jelas, perlindungan hak, kepastian mengenai tempat tinggal, serta mekanisme pengaduan yang dapat digunakan.
Koordinasi lintas sektor menentukan keberhasilan
Solusi pengungsi internal akibat bencana tidak dapat ditangani oleh satu lembaga saja. Pemerintah pusat dan daerah perlu menghubungkan kebijakan penanggulangan bencana dengan adaptasi perubahan iklim, pembangunan, perlindungan sosial, perumahan, tata ruang, administrasi kependudukan, pendidikan, kesehatan, dan pemulihan ekonomi.
Lembaga kemanusiaan dapat membantu pemenuhan kebutuhan dan perlindungan, sedangkan masyarakat lokal berperan dalam membangun penerimaan serta jaringan dukungan. Kelompok terdampak harus ditempatkan sebagai pihak yang memiliki suara dalam pengambilan keputusan, bukan hanya penerima bantuan.
Koordinasi juga membutuhkan pendataan yang akurat dan berkelanjutan. Data perlu membantu menjawab siapa yang masih mengungsi, kebutuhan apa yang belum terpenuhi, pilihan penyelesaian yang diinginkan, dan hambatan yang dihadapi setiap kelompok, termasuk anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, serta rumah tangga yang kehilangan sumber penghasilan.
Apa yang perlu diperhatikan warga terdampak?
- Pastikan status kependudukan dan dokumen penting dapat dipulihkan atau diganti.
- Catat kebutuhan terkait tempat tinggal, layanan dasar, pekerjaan, pendidikan, dan kesehatan.
- Cari informasi resmi sebelum memutuskan kembali atau mengikuti rencana relokasi.
- Sampaikan keberatan melalui mekanisme pengaduan yang tersedia jika keputusan tidak melibatkan warga.
- Perhatikan keamanan lokasi, akses penghidupan, dan keberlanjutan layanan, bukan hanya ketersediaan bangunan.
Pada akhirnya, solusi jangka panjang bagi pengungsi internal harus diukur dari kemampuan warga untuk hidup aman, memperoleh penghasilan, mengakses layanan, dan menentukan masa depannya. Evakuasi menyelamatkan nyawa, tetapi pemulihan yang adil dan partisipatif membantu memastikan warga tidak terjebak dalam pengungsian yang berkepanjangan.
