Mengapa WASH Penting bagi Pengungsi akibat Bencana
Ketika bencana memaksa orang meninggalkan rumah, kebutuhan dasar tidak berhenti pada tempat tinggal dan makanan. Air minum yang aman, toilet yang layak, fasilitas mandi, pengelolaan limbah, serta perlengkapan kebersihan menjadi layanan penyelamat jiwa. Rangkaian layanan ini dikenal sebagai WASH, yaitu water, sanitation, and hygiene atau air, sanitasi, dan kebersihan.
Layanan air sanitasi kebersihan pengungsi bencana berperan langsung dalam mencegah penyakit, menjaga keselamatan dan martabat, serta mengurangi ketegangan antara pengungsi dan komunitas tuan rumah. Karena itu, WASH perlu direncanakan sejak penilaian lokasi dan respons awal, lalu dipelihara sebagai sistem layanan yang berkelanjutan.
Apa saja yang termasuk layanan WASH?
WASH bukan sekadar membagikan air dalam keadaan darurat. Layanan ini mencakup penyediaan air minum yang aman dan cukup, toilet yang dapat digunakan dengan aman, fasilitas mandi, pengelolaan limbah, promosi kebersihan, pemantauan kualitas air, dan pelibatan masyarakat.
Di lokasi pengungsian, kebutuhan tersebut dapat hadir dalam bentuk yang berbeda. Kamp pengungsian mungkin membutuhkan jaringan distribusi air dan toilet bersama. Pusat transit memerlukan fasilitas yang cepat dipasang dan mudah dirawat. Di wilayah perkotaan atau permukiman yang tersebar, respons dapat dilakukan dengan memperkuat sistem air dan sanitasi yang sudah tersedia, bukan selalu membangun sistem paralel.
Mengapa WASH sangat penting bagi pengungsi?
Melindungi kesehatan masyarakat
Pengungsian sering membuat banyak orang tinggal berdekatan dengan akses air dan sanitasi yang terbatas. Jika air tercemar, toilet tidak memadai, atau limbah tidak dikelola, risiko penularan penyakit meningkat. Kondisi tersebut juga dapat berkontribusi pada malnutrisi dan mendorong orang menggunakan sumber air yang tidak tepercaya.
Air yang aman harus tersedia untuk minum, memasak, kebutuhan domestik, dan kebersihan. Sebagai acuan perencanaan, UNHCR menggunakan kebutuhan minimal 20 liter per orang per hari, dengan penyesuaian berdasarkan konteks setempat dan standar nasional.
Menjaga keselamatan dan martabat
Toilet atau fasilitas mandi yang jauh, gelap, terbuka, atau tidak memiliki privasi dapat membuat pengungsi merasa tidak aman. Perempuan, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas dapat menghadapi hambatan yang lebih besar. Fasilitas yang buruk juga dapat meningkatkan risiko kekerasan berbasis gender, terutama ketika seseorang harus berjalan jauh atau menggunakan tempat yang tidak terlindungi.
Karena itu, desain WASH perlu memperhatikan penerangan, privasi, pemisahan kebutuhan laki-laki dan perempuan bila relevan, akses universal, serta kebutuhan kebersihan menstruasi. Martabat bukan tambahan dalam respons kemanusiaan, melainkan bagian dari kualitas layanan.
Mendukung hubungan dengan komunitas tuan rumah
Kedatangan pengungsi dapat meningkatkan tekanan terhadap sumber air, toilet umum, layanan persampahan, dan fasilitas kesehatan. Jika kebutuhan hanya dipenuhi untuk satu kelompok tanpa mempertimbangkan warga sekitar, ketegangan sosial dapat muncul.
Penguatan sistem air dan sanitasi yang sudah ada serta pelibatan komunitas tuan rumah membantu membagi manfaat layanan secara lebih adil. Koordinasi dengan pemerintah daerah dan penyedia layanan setempat juga dapat mengurangi ketergantungan pada fasilitas darurat yang sulit dipelihara.
Langkah penting pada fase awal keadaan darurat
Penilaian cepat kebutuhan WASH idealnya dilakukan dalam tiga hari pertama sejak keadaan darurat atau kedatangan pengungsi. Penilaian ini tidak hanya menghitung jumlah orang, tetapi juga melihat kondisi sumber air, sanitasi, lingkungan, risiko perlindungan, dan kemampuan layanan yang sudah tersedia.
Proses tersebut perlu melibatkan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, perencana lokasi, aktor kemanusiaan, pengelola air, serta perwakilan komunitas. Koordinasi lintas sektor penting karena WASH berkaitan erat dengan kesehatan, gizi, tempat tinggal, perlindungan, lingkungan, dan perencanaan lokasi.
Beberapa pertanyaan awal yang perlu dijawab antara lain:
- Apakah sumber air aman, cukup, dan terlindung dari pencemaran?
- Berapa banyak pengungsi dan warga sekitar yang bergantung pada sumber tersebut?
- Apakah toilet tersedia, aman, mudah ditemukan, dan dapat digunakan oleh penyandang disabilitas?
- Apakah ada penerangan, privasi, serta jalur yang aman menuju toilet dan tempat mandi?
- Bagaimana limbah padat, air limbah, dan sampah akan dikumpulkan serta dikelola?
- Apakah sabun, perlengkapan kebersihan, dan kebutuhan kebersihan menstruasi tersedia?
Daftar periksa fasilitas WASH di lokasi pengungsian
Air
Pastikan sumber air terlindung, kualitasnya dipantau, dan distribusinya menjangkau kelompok yang paling rentan. Jumlah air harus dihitung berdasarkan populasi yang dilayani, termasuk komunitas tuan rumah apabila menggunakan sumber yang sama. Rencana cadangan diperlukan apabila sumber utama terdampak banjir, kekeringan, kerusakan, atau gangguan distribusi.
Toilet dan fasilitas mandi
Dalam acuan umum UNHCR pada fase darurat, satu toilet digunakan paling banyak oleh 50 orang dan jaraknya tidak lebih dari 50 meter dari tempat tinggal. Angka tersebut merupakan rujukan kemanusiaan yang perlu disesuaikan dengan kondisi lokasi dan regulasi nasional.
Selain jumlah, periksa keamanan, kebersihan, privasi, penerangan, ventilasi, serta akses bagi pengguna kursi roda atau orang dengan keterbatasan mobilitas. Fasilitas bagi perempuan dan laki-laki perlu diatur sesuai konteks, dengan perhatian khusus pada risiko kekerasan dan kebutuhan anak.
Kebersihan dan limbah
Sabun dan perlengkapan kebersihan harus tersedia bersama informasi yang mudah dipahami mengenai penggunaan air, toilet, pengelolaan sampah, dan pencegahan penyakit. Promosi kebersihan sebaiknya melibatkan komunitas, bukan hanya berupa penyampaian instruksi satu arah.
Toilet, saluran, tempat penampungan, dan area pembuangan perlu diperiksa secara berkala. Tanpa pemeliharaan, fasilitas yang awalnya layak dapat segera menjadi sumber pencemaran dan risiko kesehatan.
Kelompok yang membutuhkan perhatian khusus
Perempuan dan anak perempuan mungkin membutuhkan privasi, penerangan, serta perlengkapan kebersihan menstruasi yang memadai. Anak-anak memerlukan fasilitas yang aman dan mudah digunakan. Lansia dan penyandang disabilitas membutuhkan jalur, toilet, serta titik air yang dapat diakses tanpa hambatan.
Pengelola juga perlu menyediakan mekanisme pengaduan yang aman dan mudah dijangkau. Masukan warga dapat mengungkap toilet yang tidak aman, distribusi air yang tidak adil, kerusakan fasilitas, atau kebutuhan yang belum tertangani. Pengaduan harus ditindaklanjuti, bukan sekadar dikumpulkan.
WASH yang tangguh terhadap perubahan iklim
Banjir dapat mencemari sumber air dan merusak toilet. Kekeringan dapat mengurangi ketersediaan air, sedangkan badai dan gelombang panas dapat mengganggu layanan serta meningkatkan kebutuhan air. Risiko tersebut perlu diperhitungkan sejak kesiapsiagaan dan desain respons.
Perencanaan perlu menilai lokasi sumber air, kondisi tanah, pola cuaca, kapasitas penyimpanan, jalur distribusi, dan kemungkinan gangguan listrik atau transportasi. Sistem yang dipilih harus sesuai dengan iklim, kebiasaan setempat, kemampuan pemeliharaan, serta regulasi nasional.
Setelah fasilitas darurat dibangun
Respons WASH tidak selesai ketika tangki air dan toilet telah tersedia. Kualitas air harus dipantau, fasilitas dibersihkan dan diperbaiki, limbah dikelola, serta ketersediaan sabun dan perlengkapan kebersihan diperiksa secara berkala. Pengelola perlu memiliki rencana pemeliharaan, pembagian tanggung jawab, dan anggaran operasional.
Pelibatan pengungsi dan komunitas tuan rumah dalam pemantauan dapat membuat layanan lebih sesuai kebutuhan. Dengan pendekatan tersebut, WASH tidak hanya menjadi bantuan sementara, tetapi bagian dari sistem perlindungan yang menjaga kesehatan, keselamatan, martabat, dan hubungan sosial selama masa pemulihan.
