World

Dukungan Kesehatan Mental bagi Pengungsi dan Penyintas Bencana

Pengungsian, bencana, dan konflik dapat mengubah kehidupan seseorang secara mendadak. Kehilangan rumah, perpisahan dengan keluarga, ketidakpastian, kekerasan, serta sulitnya memenuhi kebutuhan dasar dapat memengaruhi rasa aman dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari. Karena itu, dukungan kesehatan mental pengungsi dan penyintas bencana perlu dipahami sebagai bagian dari pemulihan, bukan hanya pengobatan ketika seseorang mengalami gangguan mental.

Dukungan kesehatan mental dan psikososial atau mental health and psychosocial support (MHPSS) mencakup berbagai bantuan untuk melindungi dan meningkatkan kesejahteraan psikologis serta mencegah atau menangani kondisi kesehatan mental. Pendekatan ini menggabungkan dukungan lokal, kekuatan komunitas, layanan sosial, dan perawatan profesional sesuai kebutuhan.

Apa yang dimaksud dukungan kesehatan mental dan psikososial?

MHPSS bukan satu jenis layanan atau kegiatan tunggal. Di dalamnya terdapat dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasar, membangun kembali hubungan sosial, memberikan bantuan psikologis yang terarah, hingga perawatan klinis bagi orang dengan gejala berat atau kondisi mental yang membutuhkan penanganan profesional.

Pendekatan ini penting karena tekanan yang dialami pengungsi dan penyintas bencana tidak berdiri sendiri. Rasa cemas dapat semakin berat ketika seseorang tidak memiliki tempat tinggal aman, tidak tahu keberadaan keluarganya, kesulitan memperoleh makanan dan layanan kesehatan, atau menghadapi ancaman kekerasan. Oleh sebab itu, respons kesehatan mental perlu berjalan bersama program perlindungan, kesehatan, pendidikan, perlindungan anak, pencegahan dan penanganan kekerasan berbasis gender, serta mata pencaharian.

Empat lapisan dukungan MHPSS

Respons yang baik biasanya dibangun secara bertahap. Setiap lapisan saling melengkapi dan tidak seharusnya dipandang sebagai pilihan yang saling menggantikan.

1. Layanan dasar dan keamanan

Lapisan pertama berfokus pada keselamatan, tempat tinggal, pangan, air bersih, layanan kesehatan, perlindungan, dan informasi yang jelas. Pemenuhan kebutuhan dasar dapat membantu mengurangi tekanan dan memberi kembali rasa kendali kepada orang yang terdampak.

Informasi juga perlu disampaikan dengan cara yang mudah dipahami, termasuk mengenai lokasi layanan, prosedur bantuan, serta cara menghubungi anggota keluarga. Lingkungan yang aman dan bermartabat menjadi fondasi bagi dukungan psikososial berikutnya.

2. Dukungan keluarga dan komunitas

Hubungan dengan keluarga, teman, tetangga, kelompok sebaya, tokoh masyarakat, dan jaringan lokal dapat membantu seseorang menghadapi masa sulit. Kegiatan sosial, pendidikan nonformal, olahraga, permainan, serta aktivitas kreatif dapat memulihkan rasa terhubung dan memperkuat kemampuan menghadapi tekanan.

Untuk anak-anak, ruang yang aman untuk belajar, bermain, dan berinteraksi dapat mendukung rutinitas serta rasa nyaman. Bagi orang dewasa, kelompok dukungan atau kegiatan komunitas dapat mengurangi isolasi dan membuka akses terhadap informasi serta bantuan praktis.

3. Dukungan psikososial terarah

Lapisan ini ditujukan kepada orang atau kelompok yang memerlukan bantuan lebih terstruktur, tetapi belum tentu membutuhkan perawatan klinis. Bentuknya dapat berupa dukungan kelompok, konseling dasar, pendampingan sosial, atau intervensi psikososial yang dilakukan oleh petugas terlatih.

Pekerja komunitas, pekerja sosial, tenaga kesehatan umum, dan relawan dapat membantu memberikan pertolongan psikologis awal. Mereka dapat mendengarkan tanpa menghakimi, membantu seseorang merasa lebih tenang, mengidentifikasi kebutuhan mendesak, dan menghubungkannya dengan layanan yang sesuai.

4. Layanan klinis bagi kondisi berat

Orang dengan gangguan mental berat, gejala yang menetap dan mengganggu fungsi, atau kondisi yang sudah ada sebelumnya mungkin memerlukan pemeriksaan dan perawatan profesional. Layanan ini dapat mencakup fasilitas kesehatan primer maupun layanan kesehatan mental yang lebih khusus, sesuai sistem kesehatan yang tersedia.

Dukungan sebaiknya dihubungkan dengan sistem kesehatan nasional agar perawatan tidak berhenti ketika fase tanggap darurat berakhir. Keberlanjutan layanan penting bagi orang yang membutuhkan pemantauan, pengobatan, atau pendampingan jangka panjang.

Tidak semua reaksi stres adalah gangguan mental

Kesedihan, takut, sulit tidur, mudah terkejut, bingung, atau kehilangan konsentrasi dapat muncul setelah bencana, konflik, atau perpindahan paksa. Reaksi tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan mental. Banyak orang dapat pulih dengan dukungan keluarga, komunitas, rasa aman, dan pemenuhan kebutuhan dasar.

Namun, bantuan profesional perlu segera dicari apabila gejala terasa berat, berlangsung menetap, menghambat aktivitas sehari-hari, atau membuat seseorang tidak mampu memenuhi fungsi dasar. Risiko bunuh diri, keinginan menyakiti diri sendiri, atau bahaya terhadap orang lain merupakan tanda yang memerlukan rujukan segera ke layanan kesehatan profesional.

Jangan meninggalkan orang yang berada dalam risiko berat sendirian. Hubungkan mereka secepat mungkin dengan fasilitas kesehatan atau tenaga profesional yang tersedia di wilayah tersebut.

Bagaimana jalur rujukan seharusnya bekerja?

Jalur rujukan yang jelas membantu pengungsi dan penyintas memperoleh bantuan tanpa harus berulang kali menceritakan pengalaman traumatis atau berpindah-pindah mencari layanan. Petugas di tempat pengungsian, fasilitas kesehatan, sekolah, pusat perlindungan, dan organisasi komunitas perlu mengetahui layanan yang tersedia serta cara mengaksesnya.

  1. Kenali kebutuhan dan tanda bahaya. Dengarkan dengan tenang, amati perubahan fungsi sehari-hari, serta tanyakan kebutuhan keselamatan secara sensitif.
  2. Berikan informasi yang sederhana. Jelaskan pilihan bantuan, kerahasiaan yang dapat dijaga, dan langkah berikutnya menggunakan bahasa yang dipahami.
  3. Hubungkan dengan layanan yang tepat. Kasus dengan kebutuhan sosial dapat diarahkan ke pekerja sosial atau layanan perlindungan, sedangkan gejala berat perlu dirujuk ke tenaga kesehatan profesional.
  4. Pastikan tindak lanjut. Rujukan tidak berhenti pada pemberian alamat atau instruksi. Petugas perlu membantu memastikan orang tersebut dapat mencapai layanan dan memperoleh dukungan lanjutan.

Kelompok yang memerlukan perhatian khusus

Risiko dan hambatan akses tidak dialami secara sama oleh semua orang. Anak-anak dapat kesulitan menjelaskan perasaan atau kebutuhannya. Penyandang disabilitas mungkin menghadapi hambatan fisik, komunikasi, dan informasi. Lansia, penyintas kekerasan, orang yang terpisah dari keluarga, serta mereka yang memiliki kondisi mental sebelumnya juga dapat membutuhkan dukungan lebih intensif.

Perhatian khusus perlu diberikan kepada orang yang terisolasi, menghadapi hambatan bahasa, atau tidak mengetahui layanan yang tersedia. Perlindungan anak dan pencegahan serta penanganan kekerasan berbasis gender harus menjadi bagian dari koordinasi, bukan layanan yang berjalan terpisah dari dukungan kesehatan mental.

Prinsip layanan yang aman dan bermartabat

Layanan MHPSS perlu dirancang berdasarkan kebutuhan serta sumber daya setempat. Penilaian sebaiknya dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan kelompok terdampak. Selain mengidentifikasi masalah, petugas perlu memahami cara masyarakat bertahan, jaringan dukungan informal, dan layanan formal yang sudah ada.

Respons yang baik menghormati bahasa, budaya, keyakinan, dan pilihan orang yang dibantu. Pengungsi serta penyintas perlu dilibatkan dalam perencanaan agar layanan benar-benar dapat diterima dan digunakan. Kerahasiaan, persetujuan, keamanan, serta perlakuan tanpa diskriminasi juga penting untuk mengurangi stigma.

Stigma dapat membuat seseorang menyembunyikan gejala atau menunda mencari pertolongan. Karena itu, komunikasi publik sebaiknya menjelaskan bahwa meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Kesehatan mental merupakan bagian dari kesehatan dan pemulihan secara menyeluruh.

Peran komunitas dan sistem layanan

Relawan dan pekerja komunitas tidak menggantikan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan lain. Peran mereka adalah memberikan dukungan awal, mengenali tanda bahaya, menjaga hubungan dengan kelompok terdampak, dan membantu proses rujukan. Mereka juga perlu memperoleh pelatihan, arahan, serta dukungan agar tidak mengalami kelelahan dan tekanan berlebihan.

Koordinasi lintas sektor membantu memastikan tidak ada kebutuhan penting yang terabaikan. Fasilitas kesehatan, sekolah, layanan perlindungan, program perlindungan anak, layanan terkait kekerasan berbasis gender, dan program mata pencaharian dapat saling menguatkan. Dengan pendekatan ini, dukungan kesehatan mental pengungsi tidak berhenti pada intervensi individual, tetapi menjadi bagian dari pemulihan keluarga dan masyarakat.

Pada akhirnya, dukungan kesehatan mental yang efektif harus aman, mudah dijangkau, sesuai budaya, berkelanjutan, dan berpusat pada orang yang terdampak. Ketika kebutuhan dasar dipenuhi, komunitas diperkuat, bantuan psikososial tersedia, dan rujukan profesional berjalan jelas, pengungsi serta penyintas bencana memiliki peluang lebih besar untuk memulihkan rasa aman dan kembali menjalani kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *