World

Mengapa Layanan Kesehatan Primer Tangguh Iklim Penting bagi Pengungsi Internal

Ketika banjir, kekeringan, badai, atau gelombang panas memaksa warga meninggalkan rumah, kebutuhan kesehatan tidak ikut berhenti. Pemeriksaan rutin, obat penyakit kronis, imunisasi, layanan ibu dan anak, dukungan kesehatan mental, serta rujukan darurat tetap diperlukan. Karena itu, layanan kesehatan primer bagi pengungsi internal harus dirancang agar mampu bekerja dalam situasi yang berubah cepat dan menjangkau orang-orang yang berpindah tempat.

Pengungsi internal adalah orang yang terpaksa meninggalkan rumah akibat konflik, kekerasan, bencana, atau pelanggaran hak, tetapi masih berada di dalam wilayah negaranya sendiri. Status ini berbeda dari pengungsi lintas negara yang melewati perbatasan internasional. Perbedaan tersebut memengaruhi tata kelola layanan, namun keduanya sama-sama dapat menghadapi hambatan akses dan risiko kesehatan yang serius.

Mengapa pengungsian mengganggu layanan kesehatan

Pengungsian dapat memutus hubungan seseorang dengan fasilitas kesehatan, tenaga medis, catatan pengobatan, dan jaringan dukungan sosial. Tempat tinggal baru mungkin berada jauh dari puskesmas atau rumah sakit, bahkan di lokasi informal yang belum memiliki infrastruktur dasar. Penampungan yang padat juga dapat menyulitkan pencegahan penyakit dan memperbesar kebutuhan layanan kesehatan.

Hambatan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan jarak. Keamanan, biaya, bahasa, kebijakan administratif, perbedaan budaya, serta keterbatasan sarana dapat membuat layanan yang tersedia sulit digunakan. Bagi orang dengan hipertensi, diabetes, penyakit pernapasan, atau kondisi kronis lain, terputusnya obat dan pemantauan dapat meningkatkan risiko komplikasi.

Kelompok rentan juga membutuhkan perhatian khusus. Anak-anak memerlukan imunisasi dan pemantauan tumbuh kembang, sementara ibu hamil membutuhkan pemeriksaan berkala serta akses persalinan yang aman. Penyintas bencana dapat mengalami kecemasan, kesedihan, trauma, atau gangguan tidur. Jika dukungan kesehatan mental tidak tersedia sejak awal, masalah tersebut dapat berlanjut dan memengaruhi pemulihan keluarga.

Makna layanan kesehatan primer tangguh iklim

Layanan kesehatan primer merupakan pintu pertama masyarakat untuk memperoleh promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan dasar, pemantauan kondisi kronis, dan rujukan. Dalam konteks bencana iklim, layanan ini perlu tangguh, yakni mampu bersiap, menyesuaikan diri, tetap berfungsi, dan pulih setelah keadaan darurat.

Kerangka Emergency Ready Primary Health Care Framework dari WHO yang diterbitkan pada 11 Mei 2026 merangkum empat kapasitas penting layanan kesehatan primer. Keempatnya dapat menjadi acuan untuk melayani populasi yang terus berpindah:

  • Menghubungkan masyarakat dengan layanan: menjangkau lokasi pengungsian, menyediakan informasi yang mudah dipahami, dan memastikan warga tahu tempat memperoleh pertolongan.
  • Mendeteksi risiko: mengenali ancaman kesehatan, kebutuhan kelompok rentan, serta perubahan kondisi di lokasi pengungsian agar respons dapat dilakukan lebih cepat.
  • Melindungi pasien dan tenaga kesehatan: menjaga keselamatan, kesiapan fasilitas, ketersediaan perlengkapan, dan kesinambungan operasional saat terjadi gangguan.
  • Memberikan perawatan berkelanjutan: memastikan layanan tetap berjalan sebelum, selama, dan setelah keadaan darurat, termasuk pengobatan serta rujukan.

Pendekatan ini penting karena respons kesehatan tidak seharusnya berhenti ketika fase evakuasi selesai. Kebutuhan pengungsi internal biasanya berlanjut selama mereka tinggal di tempat penampungan, berpindah ke lokasi lain, atau mulai membangun kembali kehidupan.

Prioritas utama dalam pelayanan pengungsi internal

Menjangkau lokasi terpencil dan informal

Banyak pengungsi internal tinggal di wilayah terpencil, permukiman informal, atau penampungan padat. Model layanan yang hanya menunggu pasien datang ke fasilitas tetap berisiko meninggalkan kelompok yang paling sulit dijangkau. Layanan bergerak, kunjungan komunitas, pos kesehatan sementara, dan koordinasi dengan pemimpin lokal dapat membantu memperluas jangkauan, selama dilaksanakan dengan memperhatikan keselamatan dan kesinambungan tenaga kesehatan.

Menjaga kesinambungan obat dan rujukan

Pengungsi perlu dapat melanjutkan pengobatan tanpa harus mengulang seluruh proses dari awal. Sistem pelayanan harus membantu mengidentifikasi kebutuhan obat, mencatat kondisi pasien, dan menghubungkan kasus yang memerlukan pemeriksaan lanjutan dengan fasilitas rujukan. Jalur rujukan juga harus mempertimbangkan gangguan transportasi, keamanan, serta perubahan lokasi pengungsian.

Mengintegrasikan kesehatan mental

Dukungan psikologis sebaiknya menjadi bagian dari layanan kesehatan umum, bukan layanan terpisah yang hanya tersedia bagi sebagian kecil orang. WHO merekomendasikan penguatan kapasitas tenaga kesehatan, sistem rujukan, dan dukungan berbasis komunitas dalam keadaan darurat. Pendekatan ini memungkinkan masalah kesehatan mental dikenali lebih dini sekaligus mengurangi hambatan bagi warga yang mungkin enggan mencari bantuan khusus.

Melindungi kesehatan ibu dan anak

Pemeriksaan kehamilan, layanan persalinan, imunisasi, pemantauan anak, serta edukasi kesehatan perlu dipertahankan di lokasi pengungsian. Informasi mengenai tempat layanan dan waktu operasional harus disampaikan secara jelas, termasuk kepada warga yang memiliki keterbatasan bahasa, mobilitas, atau akses komunikasi.

Penguatan harus mencakup komunitas tuan rumah

Layanan bagi pengungsi internal tidak boleh dibangun dengan mengabaikan warga yang sudah tinggal di wilayah penerima. Jika fasilitas kesehatan setempat kekurangan tenaga, obat, ruang, atau kapasitas rujukan, kedatangan pengungsi dapat memperbesar ketimpangan yang sebelumnya sudah ada.

Karena itu, peningkatan layanan perlu dirancang untuk pengungsi dan komunitas tuan rumah secara bersamaan. Penambahan tenaga, penguatan rantai pasok, perluasan kapasitas fasilitas, serta perbaikan sistem informasi dapat memberikan manfaat bagi seluruh penduduk. Prinsip ini juga membantu mengurangi ketegangan sosial dan mendorong kerja sama lokal.

Pelajaran dari agenda kesehatan dan perubahan iklim

Dalam laporan yang diterbitkan pada 29 Juli 2025, WHO meninjau 95 intervensi penguatan sistem kesehatan bagi populasi migran dan terlantar dalam konteks perubahan iklim. Tinjauan tersebut menegaskan perlunya sistem kesehatan yang inklusif bagi migran dan kelompok terlantar sekaligus tangguh terhadap dampak iklim.

Implikasinya adalah kebutuhan akan strategi jangka panjang, koordinasi lintas sektor, serta pelibatan komunitas terdampak. Kesehatan pengungsi tidak dapat ditangani oleh fasilitas medis saja. Perencanaan tempat tinggal, air dan sanitasi, perlindungan sosial, transportasi, komunikasi risiko, dan pengurangan risiko bencana turut menentukan apakah layanan kesehatan dapat digunakan secara efektif.

Arah layanan primer yang lebih siap

Layanan kesehatan primer bagi pengungsi internal akan lebih kuat jika memiliki rencana yang fleksibel untuk menghadapi perpindahan penduduk. Data kebutuhan perlu diperbarui tanpa mengorbankan privasi, tenaga kesehatan harus memperoleh pelatihan kesiapsiagaan, dan mekanisme koordinasi harus tetap berjalan ketika lokasi pengungsian berubah.

Yang tidak kalah penting, warga terdampak perlu dilibatkan dalam perencanaan dan evaluasi layanan. Mereka paling mengetahui hambatan yang dihadapi, mulai dari jarak dan biaya hingga keamanan, bahasa, dan norma budaya. Pelibatan tersebut membantu memastikan bahwa layanan bukan hanya tersedia di atas kertas, tetapi benar-benar dapat diakses.

Pada akhirnya, layanan kesehatan primer tangguh iklim adalah jembatan antara respons darurat dan pemulihan jangka panjang. Dengan kemampuan menghubungkan, mendeteksi, melindungi, dan merawat, sistem kesehatan dapat mengurangi dampak pengungsian sekaligus memperkuat ketahanan seluruh komunitas menghadapi bencana berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *