Entertainment

Fanny Ghassani Mau Berotot Lagi: Kisah, Motivasi, dan Tantangannya

Pendahuluan

Aktris dan presenter Indonesia Fanny Ghassani kembali mencuri perhatian publik. Kali ini bukan sekadar karena wajahnya di layar kaca, melainkan karena tekadnya untuk mengembalikan bentuk tubuh “berotot” yang pernah ia capai dan kemudian sempat ditinggalkan. Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Podkesmas, Fanny mengungkapkan bahwa dirinya “sudah pernah berotot tahun 2023, tapi nggak bisa konsisten terus”.
Keinginan ini bukan sekadar tren belaka — melainkan refleksi dari perjalanan hidup, olahraga yang telah lama ia jalani sejak 2014, dan keinginan untuk menjaga kebugaran di tengah karier yang padat. Artikel ini akan mengupas perjalanan Fanny Ghassani dari awal ia mulai aktif olahraga, motivasi untuk kembali berotot, strategi yang akan dijalankannya, serta tantangan yang mungkin akan dihadapinya.


Latar Olahraga Fanny Ghassani

Fanny Ghassani dikenal sebagai salah satu figur publik yang memiliki minat kuat terhadap gaya hidup aktif dan kebugaran. Dalam pernyataannya, ia menyebut:

“Saat itu muaythai. Terus lanjut gym. Cobain semua olahraga, tapi yang nempel banget gym sama padel.”
Sejak 2014, Fanny rutin melakukan olahraga. Ia mencoba beragam aktivitas seperti muaythai, gym, hingga padel—dan merasakan pengaruhnya terhadap tubuh dan mentalitasnya. Tren dari artis Indonesia yang melakukan perubahan gaya hidup menuju kebugaran telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dan Fanny menjadi salah satu yang cukup vokal.
Ia juga pernah berkata di Instagram:
“Gw dulu takut angkat beban karena takut berotot, ternyata berotot untuk perempuan gak gampang.”
Ungkapan ini menunjukkan betapa perjalanan kebugaran Fanny juga mencakup aspek psikologis dan sosial—bagaimana wanita menghadapi stereotip tubuh, angkat beban, dan keinginan untuk tampil kuat tanpa kehilangan sisi feminim.


Motivasi Kembali “Berotot”

Mengapa Fanny ingin kembali membentuk otot? Dari wawancara dan postingan media sosial berikut beberapa faktor yang bisa diidentifikasi:

  1. Pengalaman sebelumnya
    Fanny sendiri mengaku pernah mencapai kondisi “bersih” (diet ketat, konsumsi protein, pemotongan gula) pada tahun 2023, namun kemudian konsistensinya menurun.
    Hal ini memberi pelajaran bahwa pencapaian fisik bukan hanya soal satu tahap, tetapi soal kontinuitas.
  2. Kebutuhan karier dan kesehatan
    Sebagai figur publik yang aktif, Fanny membutuhkan stamina, fisik yang fit, dan keyakinan diri. Otot yang terbentuk bukan hanya estetika tetapi juga fungsi — misalnya kekuatan tubuh atas (upper body) yang ia inginkan seperti bahu dan punggung.
    Dengan gaya hidup aktif, kondisi fisik yang prima menjadi kunci agar ia tetap bisa menjalani berbagai proyek tanpa mudah kelelahan.
  3. Pesan tubuh untuk wanita
    Fanny berulang kali menegaskan bahwa “jika berotot itu cantik, ya nggak masalah.”
    Ini menjadi bagian dari narasi yang lebih besar bahwa tubuh wanita memiliki variasi—tidak harus tipis, sekadar ramping—but juga bisa kuat, terlatih, dan sehat.
  4. Motivasi pribadi dan tantangan
    Secara internal, Fanny mengingat bahwa tubuh yang ia capai tahun 2023 memberi energi tersendiri. Kini ia ingin kembali ke jalur itu dan membuktikan bahwa dengan konsistensi, ia bisa lebih jauh.

Strategi dan Fokus Latihan

Untuk mewujudkan rencana “kembali berotot”, Fanny tampaknya akan fokus pada beberapa aspek latihan dan gaya hidup:

  • Fokus pada upper body: Ia menyebut bagian tubuh atas seperti bahu dan punggung sebagai area yang ingin diperkuat.
  • Latihan gym secara rutin: Setelah latar muaythai dan padel, gym menjadi tempat yang “nempel banget” bagi Fanny — artinya ia mulai memfokuskan ke angkat beban dan latihan kekuatan tubuh.
  • Nutrisi ketat: Dari pengalamannya sebelumnya, ia melakukan “makan bawa dari rumah, susu protein, minyak hampir nggak ada, gula dipotong sama sekali.”
    Hal ini menunjukkan bahwa diet dan nutrisi jelas menjadi bagian penting dari strategi — bukan hanya latihan fisik.
  • Konsistensi sebagai kunci: Dari pengalaman gagal konsisten sebelumnya, kali ini fokusnya adalah menyusun rutinitas yang bisa dijalani jangka panjang.
  • Pemulihan dan keseimbangan: Karena ia aktif di dunia hiburan dengan jadwal padat, harus ada manajemen istirahat, pemulihan setelah latihan, dan menjaga siklus kerja–latihan yang sehat.

Tantangan yang Mungkin Dihadapi

Tidak ada perjalanan kebugaran yang mulus—Fanny pun menghadapi beberapa tantangan:

  • Konsistensi waktu: Sebagai artis, jadwal syuting bisa berubah–ubah, yang mengganggu rutinitas gym ataupun diet.
  • Tekanan sosial dan penilaian publik: Wanita yang membentuk otot kadang mendapatkan komentar atau persepsi — Fanny sendiri pernah khawatir “takut salah bicara” soal tubuh wanita.
  • Menghindari ekstrem: Diet terlalu ketat atau latihan yang terlalu berat bisa berdampak negatif—Fanny sebelumnya menyebut dirinya “clean banget” namun tidak bertahan lama.
  • Membagi fokus antara karier dan kesehatan: Project syuting, hosting, dan aktivitas keren lainnya harus diseimbangkan dengan latihan dan pemulihan.
  • Adaptasi fisik: Membangun otot itu butuh waktu, progres, dan pemahaman tubuh sendiri—termasuk bagaimana latihan yang tepat, nutrisi yang pas, serta menghindari cedera terutama untuk wanita yang belum terbiasa angkat beban berat.

Dampak dan Inspirasi bagi Publik

Kisah Fanny memiliki dampak lebih luas:

  • Inspirasi bagi wanita: Banyak wanita yang selama ini ragu mencoba latihan kekuatan atau membentuk otot karena takut “terlalu maskulin”. Fanny menunjukkan bahwa perempuan bisa berotot namun tetap feminin dan stylish.
  • Kesadaran akan gaya hidup sehat: Seiring tren kesehatan dan kebugaran meningkat, figur publik yang terbuka mengenai prosesnya membantu meningkatkan literasi olahraga bagi publik umum.
  • Pengaruh positif di media sosial: Posting Instagram dan YouTube Fanny yang menampilkan latihannya atau progresnya menjadi motivasi bagi follower untuk mulai atau kembali berolahraga.
  • Perubahan paradigma tubuh wanita: Tubuh ideal tidak melulu tipis—tapi bisa berarti sehat, kuat, dan siap aktivitas. Fanny memberikan contoh bahwa definisi cantik dapat berubah.

Kesimpulan

Keinginan Fanny Ghassani untuk kembali berotot adalah lebih dari sekadar proyek fisik—ini adalah perjalanan kebugaran yang melibatkan tubuh, mindset, lifestyle, dan karier. Dengan pengalaman sebelumnya sebagai modal, ia memiliki keuntungan dan pelajaran untuk menjalankannya semakin baik.
Untuk pembaca, kisah Fanny bisa jadi pendorong: Anda juga dapat memulai atau melanjutkan rutinitas kebugaran, menyusun tujuan yang realistis, menjaga nutrisi, dan melihat kebugaran sebagai bagian dari gaya hidup jangka panjang—bukan sekadar tren singkat.
Akhir kata: apakah Anda tertarik berolahraga bersama atau mengikuti perjalanan kebugaran Fanny via social media? Silakan tinggalkan komentar untuk berbagi pengalaman Anda atau pertanyaan seputar kebugaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *