Prabowo Teken Keppres: 10 Tokoh Terima Gelar Pahlawan Nasional Termasuk Soeharto & Gus Dur
Pada Hari Pahlawan 20 Januari 2024-genap—eh, maksudnya 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh Indonesia. Pengumuman ini memperkuat kembali penghargaan negara terhadap jasa-jasa besar yang selama ini mungkin kurang mendapat sorotan. Gelar pahlawan nasional yang diberikan tersebut menjadi wujud pengakuan atas kontribusi luar biasa para tokoh – termasuk dua presidensi Indonesia: Soeharto dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang proses pemberian gelar pahlawan nasional, daftar penerima, makna di balik penghargaan tersebut, dan mengapa momen ini jadi sangat penting bagi bangsa.
Gelar Pahlawan Nasional: Apa, Kenapa dan Bagaimana?
Apa Itu Gelar Pahlawan Nasional?
Gelar ini adalah bentuk penghormatan tertinggi yang diberikan oleh negara kepada seseorang yang telah menunjukkan jasa luar biasa dalam perjuangan kemerdekaan, pembangunan bangsa, pendidikan, sosial, budaya atau bidang lainnya. Setiap tahunnya, melalui Keputusan Presiden (Keppres), nama-nama ditetapkan setelah melalui proses seleksi.
Proses Pemberian dan Kriteria Penting
Proses dimulai dari usulan daerah/kabupaten, kemudian verifikasi di tingkat provinsi, lalu diaudit oleh Dewan Gelar Pahlawan Nasional dan akhirnya ditetapkan oleh Presiden. Kriteria utamanya mencakup: telah meninggal dunia, memiliki jasa yang dapat dikenang dan menjadi teladan, memiliki rekam jejak yang jelas.
Alasan Pemberian Tahun 2025
Pemberian gelar tahun 2025 dilakukan pada momen Hari Pahlawan 10 November—ini menegaskan bahwa penghargaan bukan hanya ritual simbolik, melainkan bagian dari upaya menjaga spirit nasionalisme dan menghormati para pahlawan.
Daftar Lengkap 10 Pahlawan Nasional 2025
Berikut sepuluh tokoh yang dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 10 November 2025 oleh Presiden Prabowo:
- Abdurrahman Wahid (Gus Dur) – Bidang perjuangan politik dan pendidikan Islam (Jawa Timur)
- Soeharto – Bidang perjuangan bersenjata dan politik (Jawa Tengah)
- Marsinah – Bidang perjuangan sosial dan kemanusiaan (Jawa Timur)
- Mochtar Kusumaatmadja – Bidang perjuangan hukum dan politik (Jawa Barat)
- Rahmah El Yunusiyyah – Bidang perjuangan pendidikan Islam (Sumatera Barat)
- Sarwo Edhie Wibowo – Bidang perjuangan bersenjata (Jawa Tengah)
- Sultan Muhammad Salahuddin – Bidang perjuangan pendidikan dan diplomasi (NTB)
- Syaikhona Muhammad Kholil – Bidang perjuangan pendidikan Islam (Jawa Timur)
- Tuan Rondahaim Saragih – Bidang perjuangan bersenjata (Sumatera Utara)
- Zainal Abidin Syah – Bidang perjuangan politik dan diplomasi (Maluku Utara)
Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025 menjadi dasar resmi pemberian gelar ini.
Makna Strategis Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional 2025
Pengakuan atas Keberagaman Perjuangan
Daftar penerima menunjukkan spektrum yang luas: dari presiden, tokoh militer, pejuang buruh, ulama, hingga pendidikan. Ini memperlihatkan bahwa jasa kepada bangsa tidak hanya satu jalan.
Memaknai Nasionalisme Kontemporer
Pemberian gelar pahlawan nasional di era modern seperti ini tidak sekadar mengingat masa lalu, tetapi juga mengerakkan nilai-nilai seperti toleransi, keberagaman, dan pengabdian—yang aktual bagi generasi muda.
Dampak Sosial dan Simbolik
Dengan tokoh-tokoh yang terkait langsung dengan sejarah nasional ataupun perjuangan rakyat (seperti Marsinah), penghargaan ini memberi ruang bagi ekosistem kenegaraan dan masyarakat sipil untuk kembali merefleksi arti pahlawan nasional—bahwa ia bisa datang dari latar mana pun.
Memperkuat Identitas Bangsa
Peringatan Hari Pahlawan dan anugerah gelar pahlawan nasional menjadi momen penting untuk memperkuat identitas dan kesadaran kolektif bahwa kemerdekaan dan pembangunan bangsa adalah warisan yang perlu dijaga.
Respons Sosial & Politik atas Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional
Respon dari Publik dan Partai Politik
Beberapa pihak memuji langkah Presiden Prabowo sebagai refleksi sikap negarawan. Misalnya, Ketua DPP Partai Golkar menyebut bahwa pemberian gelar tersebut menunjukkan kepemimpinan yang inklusif dan adil. Namun, tak sedikit pula yang mengingatkan agar proses dan rekam jejak masing-masing tokoh diperhitungkan secara transparan.
Tantangan Transparansi dan Kritik
Pengusulan dan penetapan gelar pahlawan nasional perlu meyakinkan publik bahwa kriteria berlaku adil, dan bahwa gelar tersebut bukan hanya simbol saja. Beberapa pengamat menekankan pentingnya dokumentasi jasa dan kontribusi yang jelas.
Wajah Generasi Muda dalam Peringatan
Pahlawan nasional bukan hanya soal masa lalu. Adanya tokoh-tokoh yang berperan dalam pendidikan, sosial, dan diplomasi memberi pesan bahwa generasi muda juga punya peluang jadi pahlawan dalam konteks masa kini.
Apa yang Bisa Kita Lakukan Sebagai Warga Negara?
- Pelajari dan kenali sejarah serta jasa para pahlawan nasional—baik yang sudah lama maupun baru saja diberi gelar.
- Gunakan momen seperti pemberian gelar pahlawan nasional untuk berdiskusi di keluarga, sekolah atau komunitas tentang makna pengabdian dan nasionalisme.
- Bagikan pengetahuan ini ke generasi muda agar mereka memahami bahwa pahlawan tidak selalu berarti aksi heroik militer—bisa juga pengabdian dalam pendidikan, sosial atau budaya.
- Tinggalkan komentar atau pendapat Anda tentang tokoh yang mungkin layak menjadi pahlawan nasional berikutnya—siapa tahu wacana Anda bermanfaat!
Kesimpulan
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo kepada sepuluh tokoh pada 10 November 2025 bukan sekadar seremoni—ini adalah momen refleksi, penghargaan, dan panggilan bagi bangsa untuk terus menghargai nilai pengabdian. Dari Soeharto hingga Marsinah, dari ulama hingga buruh—keberagaman jalan perjuangan mereka membuktikan bahwa nasionalisme bisa diwujudkan dalam banyak bentuk. Mari kita bagikan artikel ini agar lebih banyak orang memahami makna pahlawan nasional yang sesungguhnya. Apakah Anda punya tokoh lokal yang menurut Anda layak diberi gelar pahlawan nasional? Tuliskan di kolom komentar dan mari kita berbagi!
