World

Dana Kerugian dan Kerusakan Iklim: Cara Kerja dan Tantangannya

Perubahan iklim tidak hanya menimbulkan kebutuhan untuk mengurangi emisi dan beradaptasi. Di sejumlah negara berkembang yang sangat rentan, dampaknya sudah menyebabkan kerugian yang tidak dapat dihindari atau tidak sepenuhnya dapat ditangani melalui mitigasi dan adaptasi. Untuk merespons persoalan tersebut, proses perundingan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa membentuk Dana untuk Menanggapi Kerugian dan Kerusakan atau Fund for Responding to Loss and Damage.

Dana ini dirancang sebagai salah satu saluran pembiayaan multilateral bagi negara yang menghadapi dampak iklim paling berat. Namun, keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh pembentukan lembaga. Kecukupan dana, kemudahan akses, transparansi, dan kemampuan menjangkau masyarakat terdampak menjadi persoalan penting yang akan menentukan manfaatnya di lapangan.

Apa yang dimaksud kerugian dan kerusakan iklim?

Kerugian dan kerusakan iklim merujuk pada dampak perubahan iklim yang tidak dapat dihindari, atau belum dapat dicegah sepenuhnya, melalui pengurangan emisi dan langkah adaptasi. Istilah ini mencakup peristiwa yang berlangsung cepat maupun perubahan yang terjadi secara perlahan.

Dampak yang berlangsung cepat dapat berkaitan dengan bencana akibat kondisi iklim ekstrem. Sementara itu, perubahan yang terjadi secara perlahan dapat berupa kenaikan muka laut dan perubahan lingkungan yang secara bertahap mengurangi kelayakan suatu wilayah untuk dihuni atau menopang kehidupan masyarakat.

Kerugian tersebut dapat bersifat ekonomi, antara lain:

  • Kerusakan rumah, fasilitas umum, dan infrastruktur;
  • Kehilangan lahan serta mata pencaharian;
  • Biaya pemulihan dan pembangunan kembali setelah bencana;
  • Gangguan terhadap kegiatan ekonomi masyarakat.

Selain itu, ada kerugian non-ekonomi yang sering kali lebih sulit dihitung. Kehilangan nyawa, trauma, budaya, biodiversitas, tempat tinggal, dan ikatan sosial termasuk di dalamnya. Karena itu, pendekatan terhadap kerugian dan kerusakan tidak cukup hanya mengukur nilai aset yang rusak.

Bagaimana cara kerja dana ini?

Dana kerugian dan kerusakan iklim dibentuk untuk menyediakan dukungan keuangan bagi negara berkembang yang sangat rentan terhadap dampak buruk perubahan iklim. Dukungan tersebut diharapkan membantu negara menghadapi keadaan darurat, memulihkan kehidupan masyarakat, serta membangun kembali wilayah yang terdampak.

Dalam proses perundingan iklim, keputusan pada COP27 membentuk pengaturan pendanaan baru untuk merespons kerugian dan kerusakan. Kerangka operasionalisasi dana kemudian disepakati pada COP28. Dengan kerangka tersebut, dana ditempatkan sebagai saluran pembiayaan multilateral yang memiliki tata kelola dan arah strategis tersendiri.

Bank Dunia menjalankan peran terbatas sebagai wali amanat sementara dalam struktur dana. Peran tersebut tidak berarti Bank Dunia menentukan seluruh prioritas penggunaan dana. Arah strategis dan keputusan pendanaan berada pada badan pengelola dana sesuai tata kelola yang telah disepakati.

Secara umum, alur kerja dana dapat dipahami melalui beberapa tahap:

  1. Menentukan prioritas. Badan pengelola menetapkan arah strategis dan kebutuhan yang menjadi perhatian.
  2. Mengajukan dukungan. Negara yang memenuhi sasaran dan membutuhkan bantuan mengakses pembiayaan melalui mekanisme yang disediakan.
  3. Menyalurkan dana. Pembiayaan diarahkan untuk kebutuhan yang berkaitan dengan respons terhadap kerugian dan kerusakan.
  4. Memantau penggunaan. Transparansi dan akuntabilitas diperlukan agar dana digunakan sesuai tujuan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Siapa yang menjadi sasaran pendanaan?

Sasaran utama dana ini adalah negara berkembang yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kerentanan tersebut dapat terlihat dari tingginya risiko terhadap bencana, kenaikan muka laut, perpindahan penduduk, kehilangan mata pencaharian, atau kerusakan ekosistem dan budaya.

Di dalam negara penerima, perhatian juga perlu diarahkan kepada kelompok yang paling terdampak. Masyarakat dengan sumber daya terbatas, komunitas yang bergantung pada lingkungan sekitar, serta kelompok yang menghadapi hambatan dalam memperoleh layanan pemulihan dapat membutuhkan dukungan khusus.

Karena itu, prinsip kepemilikan negara, akses yang lebih mudah, perhatian terhadap gender, dan perlindungan kelompok rentan menjadi bagian penting dalam desain dana. Pendanaan tidak semestinya hanya berhenti pada lembaga nasional, tetapi perlu memberi manfaat nyata bagi komunitas yang mengalami dampak langsung.

Apa saja kebutuhan yang dapat didukung?

Cakupan pendanaan dapat meliputi berbagai kebutuhan yang muncul setelah atau selama dampak iklim terjadi. Bantuan dapat berkaitan dengan keadaan darurat, pemulihan, relokasi, perpindahan, dan rekonstruksi.

Dalam konteks kenaikan muka laut atau perubahan yang berlangsung perlahan, dukungan dapat dibutuhkan untuk menyiapkan perpindahan penduduk, merencanakan relokasi, dan menangani konsekuensi sosial maupun ekonomi. Dana juga dapat mendukung kebutuhan informasi dan data iklim yang membantu negara memahami risiko serta menentukan respons yang lebih tepat.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa kerugian dan kerusakan tidak selalu selesai dengan pembangunan kembali bangunan yang rusak. Pemulihan dapat mencakup pengembalian mata pencaharian, pemulihan layanan, dukungan terhadap masyarakat yang berpindah, serta perhatian terhadap kehilangan yang tidak mudah dinilai secara finansial.

Perbedaan dengan dana adaptasi dan bantuan kemanusiaan

Dana kerugian dan kerusakan iklim tidak dimaksudkan untuk menggantikan pembiayaan mitigasi, adaptasi, bantuan kemanusiaan, pengurangan risiko bencana, atau pembangunan. Masing-masing memiliki fungsi yang saling berkaitan.

Mitigasi berfokus pada pengurangan emisi dan penyebab perubahan iklim. Adaptasi bertujuan mengurangi kerentanan serta menyesuaikan kehidupan dan infrastruktur terhadap risiko yang diperkirakan. Pengurangan risiko bencana berupaya mengurangi kemungkinan dan dampak bencana, sedangkan bantuan kemanusiaan merespons kebutuhan mendesak.

Dana kerugian dan kerusakan mengisi kebutuhan ketika dampak tetap terjadi meskipun upaya pencegahan dan penyesuaian telah dilakukan, atau ketika kemampuan untuk mencegahnya sangat terbatas. Oleh sebab itu, koordinasi antarsumber pembiayaan penting agar tidak terjadi tumpang tindih maupun kekosongan bantuan.

Tantangan utama pendanaannya

Kecukupan dan kepastian kontribusi

Negara yang rentan membutuhkan dukungan yang dapat diperkirakan dan memadai. Jika kontribusi tidak cukup atau tidak memiliki kepastian, negara akan kesulitan merencanakan pemulihan, relokasi, dan pembangunan kembali dalam jangka panjang.

Akses bagi negara dan komunitas rentan

Mekanisme pendanaan yang terlalu rumit dapat menghambat negara yang paling membutuhkan. Tantangannya adalah menciptakan akses yang lebih mudah, tetap akuntabel, dan mampu menyalurkan dukungan kepada masyarakat terdampak tanpa prosedur yang tidak perlu.

Koordinasi dan pembagian peran

Dana harus berjalan bersama pembiayaan adaptasi, bantuan kemanusiaan, pengurangan risiko bencana, dan pembangunan. Koordinasi yang lemah dapat menimbulkan tumpang tindih program, sementara kebutuhan tertentu justru terlewat.

Transparansi dan akuntabilitas

Kepercayaan terhadap dana bergantung pada keterbukaan mengenai sumber kontribusi, keputusan pendanaan, penerima manfaat, serta hasil penggunaannya. Akuntabilitas juga penting untuk memastikan pembiayaan benar-benar menjawab kebutuhan negara dan komunitas yang rentan.

Menjangkau kerugian non-ekonomi

Kehilangan budaya, biodiversitas, tempat tinggal, dan trauma tidak selalu dapat dihitung dengan metode keuangan biasa. Dana perlu memiliki pendekatan yang mengakui nilai-nilai tersebut, bukan hanya membiayai penggantian aset fisik.

Mengapa tata kelola menjadi penentu?

Tata kelola menentukan siapa yang menetapkan prioritas, bagaimana keputusan dibuat, dan sejauh mana negara berkembang memiliki kendali atas penggunaan dana. Prinsip kepemilikan negara berarti dukungan seharusnya selaras dengan kebutuhan dan rencana negara penerima, bukan semata-mata mengikuti agenda pihak pendana.

Fleksibilitas juga dibutuhkan karena dampak iklim berbeda-beda di setiap wilayah. Respons terhadap kenaikan muka laut tidak sama dengan respons terhadap kehilangan mata pencaharian atau kerusakan akibat bencana yang berlangsung cepat. Pada saat yang sama, fleksibilitas harus disertai transparansi, pengawasan, dan perhatian terhadap gender serta kelompok yang paling rentan.

Kesimpulan

Dana kerugian dan kerusakan iklim hadir untuk membantu negara berkembang yang sangat rentan menghadapi dampak perubahan iklim yang tidak dapat dihindari atau sepenuhnya ditangani melalui mitigasi dan adaptasi. Cakupannya luas, mulai dari keadaan darurat, pemulihan, relokasi, dan rekonstruksi hingga kehilangan non-ekonomi serta kebutuhan data iklim.

Namun, pembentukan dana bukanlah akhir dari persoalan. Kecukupan kontribusi, akses, koordinasi, transparansi, dan kemampuan menjangkau komunitas terdampak akan menentukan efektivitasnya. Dana ini akan paling berguna apabila melengkapi pembiayaan lain, dikelola secara akuntabel, dan menempatkan kebutuhan negara serta masyarakat rentan sebagai pusat pengambilan keputusan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *