Krisis Air dan Karhutla Memburuk di Kapuas, Status Darurat Diperpanjang
KAPUAS, KALIMANTAN TENGAH — Pemerintah Kabupaten Kapuas memperpanjang status tanggap darurat untuk kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 13 Oktober 2026. Keputusan itu ditetapkan dalam rapat evaluasi pada 2 Oktober, ketika prakiraan menunjukkan curah hujan di wilayah tersebut masih sangat rendah hingga awal November.
Perpanjangan status ini mencerminkan memburuknya krisis air dan karhutla Kapuas di tengah periode kering yang telah berlangsung sekitar tiga bulan. Penurunan debit sungai berdampak langsung pada warga di sejumlah desa di sekitar Sungai Kapuas, sementara kondisi lahan yang kering meningkatkan risiko kebakaran, terutama di kawasan gambut.
Debit Sungai Kapuas Menurun
Laporan mengenai kondisi desa-desa di sekitar Sungai Kapuas menggambarkan menyusutnya persediaan air bagi kebutuhan sehari-hari. Setelah berbulan-bulan tanpa hujan, debit sungai turun dan air yang tersisa dilaporkan berlumpur.
Air tersebut disebut tidak layak untuk diminum maupun digunakan untuk mencuci beras. Situasi ini menunjukkan bahwa dampak kekeringan tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya cadangan air, tetapi juga dengan menurunnya kualitas sumber air yang masih tersedia.
Bagi masyarakat yang bergantung pada sungai, penurunan debit dan kualitas air dapat memperbesar kebutuhan terhadap pasokan air alternatif. Karena itu, penanganan darurat tidak hanya diarahkan untuk mengantisipasi kebakaran, tetapi juga untuk menjaga akses warga terhadap kebutuhan dasar selama curah hujan belum kembali normal.
El Niño Memperpanjang Periode Kering
Kondisi atmosfer saat ini dipengaruhi El Niño yang sangat kuat. Fenomena tersebut dapat mengurangi pasokan kelembapan dan memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memperingatkan bahwa keadaan atmosfer yang kering dapat meningkatkan potensi kekeringan, karhutla, serta kabut asap.
BMKG juga memperkirakan curah hujan mulai meningkat secara bertahap pada Oktober hingga November. Namun, untuk Kapuas, prakiraan hingga awal November masih menunjukkan curah hujan yang sangat rendah. Artinya, pemulihan ketersediaan air tidak dapat segera diandalkan dan risiko bencana tetap perlu diantisipasi selama masa peralihan tersebut.
El Niño menjadi salah satu faktor yang memperburuk kekeringan, tetapi kondisi kebakaran tidak dapat disimpulkan hanya disebabkan oleh fenomena iklim itu. Degradasi lahan gambut turut meningkatkan kerentanan wilayah terhadap api. Saat gambut kehilangan kelembapan, api dapat lebih mudah menyebar dan penanganannya menjadi lebih sulit.
Risiko Karhutla di Lahan Gambut
Penurunan muka air dan mengeringnya vegetasi membuat lahan lebih mudah terbakar. Di kawasan gambut, kondisi kering dapat meningkatkan risiko api menjalar di bawah permukaan, sehingga kebakaran berpotensi sulit terdeteksi dan dipadamkan secara cepat.
Hubungan antara berkurangnya air dan meningkatnya risiko karhutla menjadi perhatian utama dalam situasi Kapuas. Sungai yang menyusut dapat mengurangi ketersediaan air untuk kebutuhan warga sekaligus menyulitkan dukungan pemadaman apabila kebakaran terjadi di area yang aksesnya terbatas.
Karena itu, status tanggap darurat mencakup dua persoalan yang saling berkaitan, yakni pemenuhan kebutuhan air dan pengendalian ancaman kebakaran hutan serta lahan. Respons yang hanya berfokus pada salah satu aspek berisiko tidak menjawab keseluruhan dampak yang dihadapi masyarakat.
Respons Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Kapuas mengoordinasikan badan penanggulangan bencana daerah, relawan, fasilitas layanan publik, fasilitas kesehatan, dan perusahaan air daerah dalam merespons dampak kekeringan serta karhutla.
Koordinasi lintas lembaga diperlukan untuk memantau perkembangan cuaca, menilai kebutuhan warga, menjaga layanan publik, serta merespons potensi kebakaran. Keterlibatan perusahaan air daerah juga penting dalam menghadapi berkurangnya sumber air yang dapat digunakan masyarakat.
Perpanjangan status hingga 13 Oktober memberikan ruang bagi pemerintah daerah dan unsur terkait untuk melanjutkan langkah darurat sambil menunggu perubahan kondisi cuaca. Evaluasi berikutnya akan bergantung pada perkembangan curah hujan, ketersediaan air, dan risiko kebakaran di wilayah Kapuas.
Ancaman Berlanjut hingga Hujan Meningkat
Warga di sekitar Sungai Kapuas masih menghadapi ketidakpastian karena hujan diperkirakan belum merata dalam waktu dekat. Meskipun curah hujan diproyeksikan meningkat bertahap pada Oktober-November, kondisi tersebut belum otomatis memulihkan debit sungai atau menghilangkan risiko karhutla.
Selama lahan dan sumber air masih berada dalam kondisi kering, potensi kebakaran serta dampak kabut asap tetap perlu diwaspadai. Pemantauan cuaca, perlindungan kawasan gambut, penyediaan air yang aman, dan koordinasi tanggap darurat menjadi bagian penting dari penanganan krisis di Kapuas.
Perkembangan di Kabupaten Kapuas juga memperlihatkan bagaimana kekeringan dapat berkembang menjadi krisis yang berdampak pada kesehatan, kebutuhan rumah tangga, layanan publik, dan keselamatan lingkungan. Dengan prakiraan hujan yang masih rendah hingga awal November, penanganan berkelanjutan diperlukan sampai kondisi air dan risiko karhutla mulai membaik.
