Cara Menyiapkan Kesehatan Perjalanan sebelum Wisata
Liburan akan lebih aman jika persiapan kesehatan perjalanan dilakukan sebelum tiket dan koper siap. Perubahan cuaca, makanan, aktivitas fisik, kondisi lingkungan, hingga risiko penyakit di destinasi dapat memengaruhi kondisi tubuh. Dengan membuat rencana sederhana sejak awal, wisatawan dapat mengantisipasi kebutuhan obat, vaksinasi, pertolongan pertama, serta akses bantuan apabila mengalami masalah kesehatan.
Panduan ini dapat digunakan untuk perjalanan domestik maupun luar negeri. Namun, kebutuhan setiap orang berbeda. Tujuan wisata, lama perjalanan, jenis aktivitas, kondisi kesehatan, dan tingkat risiko di wilayah tujuan perlu menjadi pertimbangan utama.
1. Periksa kondisi kesehatan sebelum berangkat
Langkah pertama adalah menilai kondisi kesehatan sebelum melakukan perjalanan. Bagi orang yang memiliki penyakit tertentu, sedang menjalani pengobatan, hamil, lanjut usia, atau membawa anak, pertimbangkan konsultasi dengan tenaga kesehatan. Pemeriksaan ini membantu memastikan kondisi cukup stabil untuk bepergian dan menentukan kebutuhan obat atau dokumen kesehatan.
Sampaikan kepada tenaga kesehatan mengenai tujuan, durasi, rencana kegiatan, serta moda transportasi yang digunakan. Informasi tersebut dapat membantu memberikan saran yang lebih sesuai, terutama jika perjalanan melibatkan aktivitas fisik berat, daerah terpencil, atau wilayah dengan risiko kesehatan tertentu.
Catat informasi penting seperti alergi, kondisi medis, obat yang sedang digunakan, serta kontak keluarga yang dapat dihubungi. Simpan catatan tersebut dalam bentuk yang mudah diakses selama perjalanan. Jika bepergian bersama anak atau anggota keluarga dengan kebutuhan khusus, pastikan pendamping juga memahami informasi kesehatan utama mereka.
2. Siapkan obat rutin dan salinan resep
Wisatawan yang mengonsumsi obat secara teratur sebaiknya membawa persediaan yang cukup untuk seluruh perjalanan. Obat perlu disimpan dalam wadah yang jelas identitasnya dan mudah dijangkau, bukan hanya di bagasi yang sulit diambil. Jangan memindahkan obat ke wadah tanpa label karena dapat menyulitkan pengenalan saat dibutuhkan.
Bawa salinan resep atau keterangan dari tenaga kesehatan, terutama jika obat harus digunakan secara rutin atau memiliki aturan penggunaan khusus. Dokumen ini dapat membantu ketika obat hilang, rusak, atau perlu dijelaskan kepada petugas kesehatan di tempat tujuan. Pastikan pula wisatawan memahami dosis dan jadwal minum obatnya.
Selain obat rutin, jangan langsung membawa obat tambahan secara berlebihan tanpa memahami kegunaannya. Pilih perlengkapan yang memang relevan dengan kondisi pribadi dan rencana perjalanan. Untuk obat yang memerlukan penyimpanan atau penanganan tertentu, tanyakan cara membawanya kepada tenaga kesehatan sebelum berangkat.
3. Buat perlengkapan pertolongan pertama
Perlengkapan pertolongan pertama dapat membantu menangani keluhan ringan sebelum mendapatkan bantuan lebih lanjut. Isi tas kesehatan sesuai kebutuhan perjalanan dan kondisi anggota rombongan. Beberapa perlengkapan yang dapat dipertimbangkan meliputi:
- Obat rutin beserta salinan resep atau keterangan penggunaannya.
- Perban, kasa, plester, dan perlengkapan dasar untuk luka ringan.
- Antiseptik serta perlengkapan kebersihan yang diperlukan.
- Termometer jika sesuai dengan kebutuhan rombongan.
- Obat atau perlengkapan lain yang telah disarankan tenaga kesehatan.
Periksa kembali isi tas sebelum berangkat dan pastikan perlengkapan tidak rusak atau kedaluwarsa. Simpan barang yang paling penting di tempat yang mudah dijangkau. Perlengkapan pertolongan pertama bukan pengganti pemeriksaan medis. Jika keluhan memburuk atau muncul tanda bahaya, segera cari bantuan di fasilitas kesehatan.
4. Cek risiko kesehatan di destinasi
Risiko kesehatan tidak sama di setiap tujuan. Sebelum berangkat, cari tahu kondisi kesehatan yang perlu diwaspadai di wilayah tujuan, termasuk penyakit infeksi dan perkembangan kejadian luar biasa. Informasi ini penting untuk menentukan langkah pencegahan, kebutuhan perlindungan tambahan, serta kapan harus mencari pertolongan.
Kementerian Kesehatan menyediakan layanan travel health, pemetaan risiko penyakit infeksi emerging, sistem kewaspadaan dini dan respons kejadian luar biasa, serta pendaftaran vaksinasi melalui program Surveilans dan Karantina Kesehatan. Manfaatkan informasi resmi tersebut sebagai bagian dari persiapan kesehatan perjalanan.
Perhatikan pula karakter perjalanan. Wisata alam, kunjungan ke daerah terpencil, aktivitas di air, perjalanan ke wilayah dengan akses layanan kesehatan terbatas, dan agenda yang membutuhkan banyak tenaga dapat memerlukan persiapan berbeda. Sesuaikan isi perlengkapan dan rencana bantuan dengan kondisi tersebut.
5. Periksa kebutuhan vaksinasi perjalanan
Vaksinasi perjalanan tidak berlaku sama untuk semua orang dan semua destinasi. Kebutuhannya ditentukan oleh tujuan, kondisi kesehatan, serta tingkat risiko perjalanan. Karena persyaratan kesehatan dapat berubah, periksa informasi terbaru dari sumber resmi sebelum berangkat dan lakukan konsultasi jika masih ragu.
Salah satu contoh adalah vaksin meningokokus. Kementerian Kesehatan menyebut vaksin ini diperlukan bagi pelaku perjalanan berisiko tinggi yang menuju atau tinggal di wilayah endemis maupun wilayah yang sedang terjangkit. Artinya, kebutuhan vaksin perlu dinilai berdasarkan situasi perjalanan, bukan semata-mata karena seseorang bepergian ke luar daerah atau luar negeri.
Vaksin meningokokus diberikan minimal 10 hari sebelum keberangkatan. Setelah vaksinasi, penerima memperoleh International Certificate of Vaccination. Jangan menunggu terlalu dekat dengan jadwal keberangkatan untuk memeriksa kebutuhan vaksin, karena ada waktu yang perlu diperhitungkan sebelum perjalanan.
6. Simpan kontak fasilitas kesehatan dan darurat
Rencana kesehatan perjalanan perlu mencakup informasi tentang tempat mencari bantuan. Catat fasilitas kesehatan yang relevan di sekitar tujuan, kontak penginapan atau pendamping perjalanan, serta nomor keluarga yang dapat dihubungi. Pastikan informasi tersebut tersimpan di ponsel dan, jika memungkinkan, dalam catatan yang dapat diakses tanpa koneksi internet.
Untuk keadaan darurat pencarian dan pertolongan di Indonesia, Basarnas mencantumkan nomor 115. Gunakan bantuan darurat sesuai situasi dan sampaikan lokasi, kondisi korban, serta informasi penting lain dengan jelas. Jika bepergian dalam kelompok, sepakati siapa yang bertugas menghubungi bantuan ketika terjadi keadaan darurat.
Selain nomor darurat, ketahui cara menuju fasilitas kesehatan terdekat dari penginapan atau lokasi kegiatan. Rencana sederhana ini akan menghemat waktu ketika seseorang mengalami cedera, sakit mendadak, atau membutuhkan pemeriksaan segera.
7. Siapkan rencana jika sakit setelah perjalanan
Keluhan kesehatan dapat muncul selama perjalanan atau setelah kembali. Jika mengalami sakit setelah bepergian dari wilayah endemis atau wilayah yang terdampak kejadian kesehatan tertentu, segera cari pertolongan di fasilitas kesehatan. Sampaikan riwayat perjalanan secara jelas, termasuk wilayah yang dikunjungi dan waktu kepulangan.
Informasi perjalanan membantu tenaga kesehatan mempertimbangkan kemungkinan paparan tertentu. Jangan menunda pemeriksaan hanya karena gejala terlihat ringan, terutama jika kondisi memburuk atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
Checklist persiapan kesehatan perjalanan
- Menilai kondisi kesehatan dan berkonsultasi bila memiliki kebutuhan khusus.
- Membawa obat rutin, label yang jelas, dan salinan resep.
- Menyiapkan perlengkapan pertolongan pertama yang sesuai.
- Mengecek risiko kesehatan dan informasi kewaspadaan di destinasi.
- Memastikan kebutuhan vaksinasi berdasarkan tujuan dan tingkat risiko.
- Menyimpan kontak fasilitas kesehatan, keluarga, dan layanan darurat.
- Mencatat riwayat perjalanan jika mengalami sakit setelah pulang.
Persiapan kesehatan perjalanan sebaiknya dilakukan lebih awal, bukan pada hari keberangkatan. Selalu periksa kembali persyaratan kesehatan, informasi vaksin, dan kondisi risiko terbaru melalui sumber resmi karena ketentuan maupun situasi kesehatan dapat berubah. Dengan rencana yang jelas, wisatawan dapat menikmati perjalanan dengan lebih tenang sekaligus lebih siap menghadapi keadaan yang tidak terduga.
