Cara Menjaga Keamanan Air Minum saat Traveling agar Terhindar dari Diare
Menjaga keamanan air minum saat traveling penting dilakukan, terutama ketika Anda berkunjung ke wilayah yang kualitas air kerannya belum diketahui. Air yang terlihat jernih belum tentu bebas dari bakteri, virus, parasit, atau kontaminan kimia. Jika tertelan atau digunakan untuk menyiapkan makanan, air yang tercemar dapat menyebabkan diare, muntah, dan nyeri perut.
Risiko tidak hanya berasal dari segelas air. Air yang meragukan juga dapat masuk ke tubuh melalui es, minuman campuran, makanan yang dicuci, makanan yang dimasak, atau air yang digunakan untuk menyikat gigi. Dengan beberapa kebiasaan sederhana, pelancong dapat mengurangi kemungkinan mengalami gangguan pencernaan selama perjalanan.
Pilih sumber air yang lebih mudah dipastikan keamanannya
Di tempat dengan kualitas air yang tidak jelas, air minum dalam kemasan yang masih tertutup dan tersegel dari pabrik merupakan salah satu pilihan yang lebih aman. Periksa apakah segel dan tutupnya masih utuh sebelum meminumnya. Hindari menganggap semua air kemasan pasti aman, karena keamanan tetap bergantung pada kondisi kemasan dan sumber produknya.
Jika air disediakan oleh hotel, penginapan, restoran, atau tempat umum, tanyakan bila Anda belum yakin mengenai sumber dan proses pengolahannya. Air dari keran, dispenser, atau air mancur sebaiknya tidak langsung diminum ketika kualitasnya tidak dapat dipastikan.
Gunakan air aman untuk kebutuhan yang sering terlupakan
Air yang aman untuk diminum juga perlu digunakan untuk berbagai aktivitas yang dapat menyebabkan air masuk ke mulut. Langkah ini mencakup:
- Menyikat gigi.
- Membuat minuman, termasuk kopi atau teh.
- Memasak dan menyiapkan makanan.
- Mencuci bahan makanan yang akan langsung dimakan.
- Membuat es.
Saat mandi, usahakan tidak memasukkan air keran yang meragukan ke dalam mulut. Berhati-hatilah ketika berkumur atau mencuci wajah, terutama jika Anda belum mengetahui kualitas air di tempat tersebut.
Waspadai es dan minuman campuran
Es sering terlihat bersih, tetapi asal airnya tidak selalu dapat diketahui. Hindari es jika tidak ada kepastian bahwa es tersebut dibuat dari air yang aman. Hal yang sama berlaku untuk minuman dingin yang dicampur dengan es atau air keran.
Minuman panas yang dibuat menggunakan air yang baru direbus umumnya memiliki risiko lebih rendah, selama air tersebut tidak tercemar bahan kimia. Sebaliknya, minuman dari dispenser, air mancur, atau wadah bersama perlu dinilai berdasarkan keamanan sumber airnya, bukan hanya dari penampilan atau rasanya.
Cara mengolah air jika air kemasan tidak tersedia
Merebus air
Merebus dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu mendisinfeksi air. Panduan CDC Yellow Book menyarankan perebusan selama satu menit penuh. Setelah itu, simpan air dalam wadah bersih dan tertutup agar tidak kembali tercemar.
Namun, merebus bukan solusi untuk semua jenis pencemaran. Air yang keruh atau berubah warna karena kontaminasi kimia tidak otomatis menjadi aman hanya karena dipanaskan. Jika kondisi air tampak tidak wajar dan Anda mencurigai adanya bahan kimia, pilih sumber air lain atau gunakan air kemasan yang masih tersegel.
Disinfeksi sesuai petunjuk
Produk disinfeksi air dapat dipertimbangkan bila digunakan sesuai petunjuk pada kemasan. Perhatikan takaran, waktu tunggu, jenis air, serta batasan penggunaannya. Jangan mencampur produk secara sembarangan atau menambah dosis tanpa panduan karena hal tersebut tidak menjamin air menjadi lebih aman.
Jika air sangat keruh, metode disinfeksi mungkin tidak bekerja seperti yang diharapkan. Dalam situasi tersebut, mendapatkan sumber air yang lebih baik merupakan pilihan yang lebih tepat. Apa pun metode yang digunakan, air hasil pengolahan perlu ditampung dalam wadah bersih untuk mencegah kontaminasi ulang.
Jaga kebersihan tangan selama perjalanan
Kebersihan tangan membantu mengurangi risiko penyakit, termasuk ketika Anda sedang berhati-hati memilih air. Cuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan setelah menggunakan toilet. Bersihkan tangan secara menyeluruh, terutama ketika hendak memegang makanan atau botol minum.
Jika sabun dan air tidak tersedia, gunakan pembersih tangan berbasis alkohol dengan kadar setidaknya 60 persen. Pembersih tangan tidak menggantikan cuci tangan dalam semua keadaan, tetapi dapat menjadi pilihan sementara saat bepergian.
Checklist keamanan air minum saat traveling
Sebelum minum atau menggunakan air di tempat tujuan, lakukan pemeriksaan singkat berikut:
- Apakah sumber airnya jelas dan dapat dipercaya?
- Jika menggunakan air kemasan, apakah botol dan segelnya masih utuh?
- Apakah es dibuat dari air yang aman?
- Apakah air yang digunakan untuk menyikat gigi dan memasak sudah dipastikan aman?
- Jika air diolah, apakah perebusan atau disinfeksi dilakukan sesuai petunjuk?
- Apakah wadah penyimpanan air bersih dan tertutup?
Jika jawabannya tidak jelas, jangan mengambil risiko yang tidak perlu. Gunakan air kemasan tersegel atau air yang sudah diolah dengan benar untuk minum dan kebutuhan lain yang berhubungan dengan makanan.
Jika diare atau muntah muncul
Diare dan muntah dapat menyebabkan kehilangan cairan. Wisatawan yang mengalaminya perlu berusaha menjaga asupan cairan, dengan tetap memilih air yang aman. Perhatikan kondisi tubuh dan jangan menunda mencari bantuan jika gejala memburuk.
Segera cari pertolongan medis bila diare berat, terdapat darah dalam tinja, demam tinggi, muntah berulang, atau muncul tanda dehidrasi. Bantuan medis juga diperlukan jika keluhan tidak membaik setelah beberapa hari. Tanda dehidrasi perlu diwaspadai karena kehilangan cairan dapat menjadi serius, terutama ketika diare dan muntah terjadi bersamaan.
Intinya
Keamanan air minum saat traveling dimulai dari tidak mengandalkan kejernihan air sebagai satu-satunya tanda aman. Pilih air kemasan yang masih tersegel bila sumber air tidak diketahui, hindari es yang tidak jelas asalnya, dan gunakan air aman untuk menyikat gigi, memasak, mencuci makanan, serta membuat minuman. Jika perlu, rebus air selama satu menit penuh atau gunakan disinfeksi sesuai petunjuk, sambil mengingat bahwa metode tersebut tidak menghilangkan risiko kontaminasi kimia. Kebersihan tangan dan kewaspadaan terhadap gejala akan membantu perjalanan tetap lebih nyaman dan aman.
