World

Mengapa Pendidikan Tangguh Iklim Penting bagi Anak yang Terdampak Perpindahan

Ketika banjir, kekeringan, gelombang panas, atau badai memaksa keluarga meninggalkan rumah, anak tidak hanya kehilangan tempat tinggal. Mereka juga dapat kehilangan rutinitas, rasa aman, teman, dan kesempatan untuk belajar. Karena itu, pendidikan tangguh iklim bagi anak terdampak perpindahan perlu dipahami sebagai bagian dari perlindungan anak dan ketahanan masyarakat, bukan sekadar upaya membuka kembali sekolah setelah bencana.

Gangguan tersebut terjadi dalam skala besar. Analisis UNICEF menyebut sedikitnya 171 juta siswa di dunia mengalami gangguan sekolah akibat peristiwa iklim pada 2025. Gangguan ini dapat berupa penutupan sekolah, kerusakan fasilitas, banjir, kekeringan, gelombang panas, hingga badai. Bagi anak yang kemudian berpindah, hambatan belajar dapat berlangsung lebih lama dan menjadi semakin kompleks.

Mengapa perpindahan akibat iklim mengganggu pendidikan?

Perpindahan iklim dapat berlangsung sementara, berulang, atau menjadi permanen. Sebuah keluarga mungkin mengungsi setelah bencana, kembali ketika kondisi membaik, lalu berpindah lagi karena ancaman berikutnya. Pola seperti ini membuat anak kesulitan mengikuti kalender akademik dan mempertahankan hubungan dengan sekolah.

Di wilayah tujuan, sekolah juga belum tentu siap menerima peserta didik tambahan. Keterbatasan ruang kelas, guru, perlengkapan belajar, dan anggaran dapat membuat anak yang berpindah tidak segera terdaftar. Persoalan administratif turut berpengaruh, terutama jika keluarga kehilangan dokumen atau belum memiliki bukti tempat tinggal yang diperlukan untuk pendaftaran.

UNESCO menekankan bahwa orang yang berpindah akibat perubahan iklim menghadapi hambatan khusus dalam memperoleh pendidikan. Selain dokumen, hambatan itu dapat mencakup perbedaan bahasa, kurikulum, biaya sekolah, serta perpindahan yang terus berulang. Anak mungkin juga berada pada tingkat kemampuan yang berbeda dari kelas yang tersedia di wilayah tujuan.

Dampaknya tidak berhenti pada kehilangan hari belajar

Penutupan sekolah berarti berkurangnya waktu belajar, tetapi konsekuensinya bisa lebih luas. Anak dapat tertinggal dalam kemampuan dasar, kesulitan menyesuaikan diri dengan kurikulum baru, atau kehilangan jalur untuk melanjutkan pendidikan. Semakin lama berada di luar sekolah, semakin besar risiko anak tidak kembali.

Sekolah juga berfungsi sebagai ruang aman, tempat anak memperoleh dukungan sosial, informasi, dan perlindungan. Ketika sekolah rusak atau tidak dapat diakses, fungsi tersebut ikut hilang. Anak yang mengalami bencana dan perpindahan dapat menghadapi tekanan emosional, kecemasan, serta ketidakpastian mengenai masa depan. Karena itu, pemulihan pendidikan perlu berjalan bersama dukungan psikososial.

Kesenjangan ini terlihat jelas pada anak pengungsi. UNHCR melaporkan bahwa pada 2025 sekitar 44 persen anak usia sekolah yang berstatus pengungsi berada di luar sekolah, dengan kesenjangan terbesar pada jenjang menengah. Angka tersebut menunjukkan bahwa perluasan akses harus mencakup anak pengungsi, pengungsi internal, dan komunitas tuan rumah secara bersamaan.

Apa yang dimaksud pendidikan tangguh iklim?

Pendidikan tangguh iklim adalah sistem pendidikan yang mampu mengantisipasi risiko, tetap berjalan saat terjadi gangguan, dan pulih dengan cepat tanpa meninggalkan kelompok paling rentan. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pembangunan gedung sekolah yang kuat, tetapi juga pada kebijakan, pendanaan, data, guru, teknologi pembelajaran, dan hubungan dengan masyarakat.

Tujuan utamanya adalah memastikan perpindahan atau bencana tidak memutus hak anak untuk belajar. Sekolah dan pemerintah perlu memiliki rencana sebelum krisis terjadi, bukan baru bertindak setelah fasilitas rusak atau keluarga tiba di tempat pengungsian.

Langkah penting untuk menjaga kesinambungan belajar

1. Memasukkan risiko iklim ke dalam perencanaan pendidikan

Perencanaan pendidikan perlu memperhitungkan wilayah yang rentan terhadap banjir, kekeringan, badai, dan gelombang panas, sekaligus memetakan kemungkinan perpindahan penduduk. Data tersebut dapat membantu pemerintah memperkirakan kebutuhan ruang kelas, guru, perlengkapan, dan dukungan layanan di wilayah asal maupun tujuan.

UNICEF dan Save the Children merekomendasikan agar sektor pendidikan mengidentifikasi peserta didik yang paling rentan, memasukkan risiko iklim ke dalam perencanaan, serta menyiapkan tindakan antisipatif. Dengan begitu, keputusan seperti pemindahan sementara kegiatan belajar atau distribusi perlengkapan dapat dilakukan lebih cepat.

2. Memperkuat infrastruktur sekolah

Fasilitas pendidikan perlu dirancang dan dirawat agar lebih aman menghadapi ancaman setempat. Infrastruktur yang tangguh juga harus mendukung kegiatan belajar ketika terjadi panas ekstrem, banjir, atau gangguan akses. Namun, pembangunan fisik harus menjadi bagian dari strategi yang lebih luas, karena gedung yang aman tetap tidak cukup jika tidak tersedia guru, bahan ajar, atau anggaran operasional.

3. Menyiapkan rencana kesinambungan pembelajaran

Sekolah dan otoritas pendidikan perlu memiliki rencana agar proses belajar dapat berlanjut ketika sekolah ditutup atau keluarga berpindah. Rencana tersebut dapat mencakup pengaturan pembelajaran sementara, pemindahan catatan pendidikan, penyediaan bahan belajar, serta jalur yang jelas untuk kembali ke sekolah setelah kondisi membaik.

Pilihan pelaksanaan perlu disesuaikan dengan situasi setempat. Tidak semua anak memiliki akses perangkat atau koneksi internet, sehingga kesinambungan belajar tidak boleh hanya mengandalkan teknologi digital. Bahan cetak, dukungan guru, dan ruang belajar yang aman tetap penting.

4. Memastikan penerimaan anak yang berpindah

Anak yang berpindah perlu dapat masuk ke sistem pendidikan nasional tanpa menghadapi persyaratan yang tidak realistis. Sekolah dapat membutuhkan mekanisme untuk menangani dokumen yang hilang, menilai kemampuan belajar, mengakui riwayat pendidikan, dan membantu anak mengejar ketertinggalan.

Perbedaan bahasa dan kurikulum juga harus diperhatikan. Dukungan pengajaran tambahan dapat membantu anak beradaptasi, sementara pelatihan bagi guru penting agar kelas dapat mengakomodasi latar belakang peserta didik yang beragam.

5. Menyediakan dukungan psikososial dan perlindungan

Pendidikan yang tangguh iklim harus mengakui bahwa anak mungkin mengalami kehilangan, ketakutan, dan tekanan akibat bencana maupun perpindahan. Sekolah perlu menjadi ruang yang aman, bebas dari diskriminasi, dan terhubung dengan layanan perlindungan serta dukungan psikososial.

Dukungan ini tidak boleh hanya diberikan kepada anak yang berpindah. Komunitas tuan rumah juga dapat menghadapi tekanan ketika kapasitas sekolah dan layanan sosial terbatas. Pendekatan yang adil membantu mencegah persaingan antara kelompok dan memperkuat penerimaan sosial.

Peran komunitas tuan rumah dan pembiayaan berkelanjutan

Sekolah di wilayah tujuan sering menjadi titik pertama integrasi bagi anak yang baru datang. Karena itu, kebutuhan anak berpindah harus direncanakan bersama kebutuhan komunitas tuan rumah. Penambahan ruang kelas, guru, fasilitas aman, dan perlengkapan belajar harus didukung pembiayaan yang berkelanjutan, bukan hanya bantuan darurat jangka pendek.

Pelibatan keluarga, guru, organisasi masyarakat, dan anak sendiri dapat membuat kebijakan lebih sesuai dengan kondisi lapangan. Masyarakat setempat juga dapat membantu mengenali anak yang belum bersekolah dan mengurangi hambatan administratif atau sosial yang mereka hadapi.

Membedakan perpindahan iklim dan konflik

Perpindahan akibat bencana atau perubahan iklim tidak sama dengan perpindahan akibat konflik. Penyebab, status hukum, kebutuhan perlindungan, dan respons kebijakannya dapat berbeda. Namun, keduanya dapat saling memperburuk gangguan pendidikan. Wilayah yang sudah mengalami konflik mungkin memiliki sekolah dan layanan publik yang lemah, sehingga lebih sulit merespons bencana iklim. Sebaliknya, tekanan sumber daya setelah bencana dapat memperbesar ketegangan sosial.

Kebijakan pendidikan karena itu perlu melihat kondisi anak secara menyeluruh, tanpa mengabaikan perbedaan status dan kebutuhan perlindungan. Fokus akhirnya tetap sama: memastikan setiap anak dapat belajar secara aman, berkelanjutan, dan inklusif.

Kesimpulan

Pendidikan tangguh iklim bagi anak terdampak perpindahan adalah investasi untuk mencegah krisis berulang menjadi kehilangan masa depan. Sistem yang siap harus mampu mengantisipasi risiko, melindungi fasilitas, mempertahankan pembelajaran, menerima anak yang berpindah, dan menyediakan dukungan psikososial.

Ketika kebijakan memperkuat sistem pendidikan nasional sekaligus melibatkan komunitas tuan rumah, anak tidak dipaksa memilih antara keselamatan dan hak untuk belajar. Mereka mendapatkan peluang untuk pulih, beradaptasi, dan melanjutkan pendidikan meskipun perubahan iklim terus menghadirkan tantangan baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *